Showing posts with label Informasi Haji. Show all posts
Showing posts with label Informasi Haji. Show all posts

Thursday, January 19, 2017

TIPS CARA MENGHADAPI MUSIM DINGIN SAAT UMROH




Secara umum musim yang terjadi di Arab Saudi ada dua yaitu musim panas dan musim dingin. Musim dingin biasa nya terjadi pada bulan September sampai bulan maret yang dapat mencapai suhu udara di bawah nol derjat celcius.
Mengingat cuaca sekarang di Arab Saudi telah memasuki musim dingin, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Arab Saudi memberikan tips dalam menghadapi kondisi cuaca terkait untuk menjaga Kesehatan dan menjaga stamina serta mempersiapkan beberapa hal yang insya Allah diperlukan selama di Tanah Suci.
Berikut Tips untuk megahadapi musim dingin pada saat umrah.
1. Membawa perlengkapan musim dingin seperti; jaket, kaos kaki, sarung tangan, masker, penutup telinga, lipgloss, cream kulit dan lain-lain sesuai kebutuhan. (dengan memperhatikan pakaian ketika berihram nanti).

2. Memperbanyak minum air putih (walaupun tidak merasa haus), sebab udara dingin sering menyebabkan kita merasa tidak haus, padahal tubuh butuh cairan, khususnya dengan meminum Air Zamzam.
3. Mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang memiliki kadar gula berlebihan dan mengurangi konsumsi makanan dan minuman dingin (dari kulkas).
4. Perbanyaklah mengkonsumsi buah dan suplemen alami serta perbanyaklah bergerak.
5. Jangan sekali kali menganggap remeh udara dan angin dingin yang ada, dan jangan juga menganggap enteng sakit ringan.
6. Pastikan suhu udara sebelum keluar kamar, apabila suhu relatif rendah, persiapkan jaket yang agak tebal, apabila suhu relatif tinggi, sediakan jaket yang lebih tipis.
7. Membawa makanan ringan (seperti roti dll) di dalam tas pegangan ketika perjalanan terbang ke Arab Saudi, untuk kebutuhan jika proses di imigrasi Bandara terasa lama, maka sudah siap dengan makanan ringan tadi untuk sedikit membantu.
8. Selalu mematuhi Himbauan pemerintah Arab saudi yang berkaitan dengan cuaca ataupun himbauan lainnya.
Demikian beberapa tips untuk menghadapi musim dingin, semoga Allah memberikan keberkahan dan kesehatan kapanpun di musim apapun, serta menjadikan Ibadah para jamaah mabrur. (Ham)
Sumber: Website KabarumrohHaji

Sunday, December 1, 2013

Panduan Cara Memakai Kain Ihram Pria dan Wanita (Video)



Cara memakai kain ihram ikhwan dan akhwat



Kain Ihram Import

Kain Ihram Lokal

Kain Ihram Anak

Thursday, November 7, 2013

Kisah Nyata: MABRUR SEBELUM BERHAJI







Seorang Asep Sudrajat (61 tahun) bersama Asih, istrinya mewakili seorang yang mabrur sebelum berhaji, insya Allah. Hampir selama 20 tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita mulia. Memenuhi panggilan Allah menuju tanah suci Mekah Al Mukarramah. Niat yang kuat dibuktikan dengan usaha sungguh-sungguh. Mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil warung kecil mereka yang seadanya.

Rp 50. 830. 000 terkumpul sudah. Hampir mencukupi untuk ongkos haji yang 27 juta rupiah per orang, ketika itu. Hanya perlu menambah sedikit agar benar-benar pas. Menabung satu tahun lagi barangkali tercukupi.

Niat sudah lengkap. Tekad sudah bulat. Mereka akan segera mendaftar di hari-hari depan. Hari-hari berikutnya mereka semakin giat berdagang. Menyisahkan hasil meski kecil. Hingga suatu pagi mereka mendengar kabar bahwa Kang Endi, kawan karibnya sesama jamaah masjid Ash-Shabirin, mendadak sakit. Ia dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Asep pun segera menjenguknya.

Kang Endi dirawat di ruang ICU. Tumor ganas menyerang dan menjalar. Begitu diagnosis dokter. Bergidik Asep mendengarnya. Ia besarkan hati sahabatnya untuk sabar, tawakal dan berdoa.

Hari kedelapan Kang Endi dipindahkan ke ruang kelas 3. Kamar yang gelap, pengap, berbau tak sedap dan cukup berantakan.

Hari kesebelas, saat Asep di sana, seorang perawat membawa surat. Tawaran untuk operasi tumor ganas. Biayanya hampir 50 juta rupiah. Dengan ekonomi yang sangat terbatas, keluarga Kang Endi hanya bisa gigit jari. Kondisinya semakin parah. Badannya semakin kurus dan lemah. Sorot matanya redup dan tak bisa bicara. Terkulai tak berdaya. Di pinggir ranjang. Asep sahabatnya mengambil keputusan besar. Berpamitan pulang.

Sesampai di rumah, Asep menyampaikan keputusannya kepada Asih, sang istri. “ Bu, kondisi Kang Endi semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya, “ papar Asep sambil bercerita lirih solusi yang ditawarkan pihak rumah sakit.

“ Kasihan mereka ya Pak! Kita bisa bantu apa?” Tanya Asih, iba. Trenyuh. “ Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Asep menawarkan. Asih sempat kaget. “ Diberikan? Waduh Pak, hampir 20 tahun kita menabung. Masak cita-cita ini pupus seketika dengan membantu orang lain?” tutur Asih memelas.

“ Bu, banyak orang yang berhaji tapi belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah. Bapak yakin, bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita pun akan ditolong Allah,” nasihat Asep.

Kalimat demi kalimat dari lidah suami yang penuh wibawa itu menyirami relung hati Asih. Istri shalihah itu pun akhirnya mengangguk setuju. Esok paginya, Asep dan Asih datang ke rumah sakit. Mengajak bicara istri Kang Endi sekaligus menyerahkan uang tersebut.

Istri Kang Endi tersentak, menangis, dan tak bisa berkata apa-apa. Suasana haru menyelimuti mereka. Uang itu dibawa ke bagian administrasi. Formulir diisi. Besok paginya jam 08.00 operasi tumor pun dijalani. Alhamdulillah.

Esoknya, sebelum operasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan pihak keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar! Oh ya, kalau boleh tahu, dari mana dana operasi ini?” Tanya dokter yang tahu persis kondisi ekonomi keluarga Kang Endi.

“ Alhamdulillah. Ada seorang tetangga kami yang membantu Dok. Namanya Pak Asep,” jawab istri Kang Endi.

“ Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Di benak sang dokter, pastilah Asep seorang pengusaha sukses.

“ Dia cuma usaha warung kecil saja kok di dekat rumah kami. Saya sendiri nggak percaya waktu dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu,” tambahnya.

Alhamdulillah. Akhirnya operasi berjalan lancar. Seluruh keluarga, dokter dan perawat merasa gembira. Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Selama itu, Pak Asep masih sering menjenguknya.

Suatu hari Asep dan sang dokter yang sedang memeriksa Kang Endi pun berkenalan. Dokter memuji kemurahan hati Pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Allah. Dokter itu kemudian meminta alamat Asep.

Beberapa pekan berlalu, Kang Endi sudah pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Warung mereka belum lagi tutup. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar rumah mereka. Namun Asep dan Asih tak bisa mengenali mereka. Begitu mendekat, tahulah Asep pria yang datang adalah dokter yang merawat Kang Endi. Ia datang bersama istrinya.

Asep kikuk saat menerima mereka. Seumur hidup belum pernah menerima ‘tamu besar’ seperti malam itu. Mereka pun dipersilahkan masuk. Diberi sajian ala kadarnya. Mereka terlibat pembicaraan hangat. Asep pun menanyakan maksud kedatangan mereka. Dokter mengungkapkan niat mereka bersilaturrahim seraya menyatakan keharuannya terhadap pengorbanan Asep dan istrinya. “ Kami ingin belajar ikhlas seperti Pak Asep dan Ibu,” ungkap sang dokter penuh perasaan. Asep mengelak. Merendah.

“ Pak Asep dan Ibu, saya dan istri berniat menunaikan haji tahun depan. Saya mohon doa Bapak dan Ibu agar perjalanan kami dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Saya yakin doa orang-orang shalih seperti Bapak dan Ibu akan dikabulkan Allah,” lanjut sang dokter. Berkali-kali Asep dan Asih mengaminkan, walau ada sedikit rasa sedih dan getir. Sebab tahun depan mereka juga seharusnya bisa berangkat ibadah haji.

“ Tapi, supaya doa Bapak dan Ibu semakin dikabulkan oleh Allah, bagaimana jika Bapak dan Ibu berdoanya di tempat-tempat yang mustajab?” papar sang dokter sambil menatap Asep dalam-dalam.

Asep sempat bingung, tapi ia beranikan diri untuk bertanya” Maksud Pak Dokter?”

“ Maksud kami, izinkan saya dan istri mengajak Bapak dan Ibu untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah mengabulkan doa kita semua,” tutur sang dokter penuh suka cita.

Asep dan Asih tiba-tiba diam. Saling berpandangan. Hening. Tak ada jawaban dari Asep dan Asih. Hanya ada derai air mata Asep dalam pelukan erat sang dokter, dan uraian tangis haru Asih dalam pelukan istri sang dokter. Dan, di ujung malam itu, tangis Asep dan Asih semakin meledak dalam sujud-sujud yang teramat syahdu dan dalam pijar-pijar syukur yang menyala indah.

***

Subhanallah wa Allhamdulillah. Tiada kata yang bisa mewakili kecuali hanya kepada keagungan Allah kita memasrahkan diri.

“ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, nisacaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” ( Q. S. Muhammad : 7)

Rasulullah Saw bersabda, “ Barang siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bishshowab…

(Kisah nyata dikutip dari majalah Hidayatullah)

Saturday, October 5, 2013

Calon jemaah haji tahun 2013 asal Kota Cimahi

CIMAHI, (PRLM).-Calon jemaah haji tahun 2013 asal Kota Cimahi diberangkatkan, Sabtu (5/10). Pelepasan calhaj dilaksanakan di Pusdik Armed Jln. Baros Kota Cimahi.Jumlah jemaah haji asal Cimahi yang akan berangkat tahun ini sebanyak 455 jemaah ditambah dengan petugas.

Adapun jadwal keberangkatan jemaah haji asal Cimahi terbagi 2 kloter yaitu kloter 19 berangkat 18 September 2013 sebanyak 5 orang, serta kloter 61CKS pada 5 Oktober 2013 sebanyak 438 orang ditambah petugas pendamping 6 orang.

Pemberangkatan calon jemaah haji (calhaj) tahun 2013 asal Kota Cimahi mengalami perubahan dari gelombang 1 menjadi gelombang 2 Jawa Barat.

Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kota Cimahi Hilmi Rivai didampingi Kepala Seksi Penyelanggaran haji dan Umroh Kementrian Agama (Kemenag) Kota Cimahi Zulkifli Abubakar menyatakan, para calhaj diimbau hanya membawa barang-barang penting yang dibutuhkan.

"Tidak perlu membawa barang yang manfaatnya hanya sedikit, di Tanah Suci kita niatnya ibadah, kalau direpotkan dengan bawaan kan menguras energi juga," tuturnya.

Kesalehan yang dicapai setelah beribadah haji bukan hanya untuk kepentingan pribadi. "Melainkan, lebih penting kesalehan sosial terutama kepada lingkungannya," ucapnya.

Dalam sambutannya, Wali kota Cimahi Atty Suharti mengatakan, para jemaah haji asal Cimahi diharapkan senantiasa menunjukkan kepekaan dan kepedulian sosial di tanah suci.

"Saling berbagi, memperhatikan dan melindungi sesama jemaah asal Cimahi. Saya juga titip pesan, ditempat-tempat berdoa seperti Masjidil Harom dan Mesjid Nabawi agar mendoakan Cimahi," ucapnya

CIMAHI, (PRLM).-Calon jemaah haji tahun 2013 asal Kota Cimahi diberangkatkan, Sabtu (5/10). Pelepasan calhaj dilaksanakan di Pusdik Armed Jln. Baros Kota Cimahi.Jumlah jemaah haji asal Cimahi yang akan berangkat tahun ini sebanyak 455 jemaah ditambah dengan petugas.

Adapun jadwal keberangkatan jemaah haji asal Cimahi terbagi 2 kloter yaitu kloter 19 berangkat 18 September 2013 sebanyak 5 orang, serta kloter 61CKS pada 5 Oktober 2013 sebanyak 438 orang ditambah petugas pendamping 6 orang.

Pemberangkatan calon jemaah haji (calhaj) tahun 2013 asal Kota Cimahi mengalami perubahan dari gelombang 1 menjadi gelombang 2 Jawa Barat.

Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Kota Cimahi Hilmi Rivai didampingi Kepala Seksi Penyelanggaran haji dan Umroh Kementrian Agama (Kemenag) Kota Cimahi Zulkifli Abubakar menyatakan, para calhaj diimbau hanya membawa barang-barang penting yang dibutuhkan.

"Tidak perlu membawa barang yang manfaatnya hanya sedikit, di Tanah Suci kita niatnya ibadah, kalau direpotkan dengan bawaan kan menguras energi juga," tuturnya.

Kesalehan yang dicapai setelah beribadah haji bukan hanya untuk kepentingan pribadi. "Melainkan, lebih penting kesalehan sosial terutama kepada lingkungannya," ucapnya.

Dalam sambutannya, Wali kota Cimahi Atty Suharti mengatakan, para jemaah haji asal Cimahi diharapkan senantiasa menunjukkan kepekaan dan kepedulian sosial di tanah suci.

"Saling berbagi, memperhatikan dan melindungi sesama jemaah asal Cimahi. Saya juga titip pesan, ditempat-tempat berdoa seperti Masjidil Harom dan Mesjid Nabawi agar mendoakan Cimahi," ucapnya

Sumber (Koran Pikiran Rakyat)

Friday, October 4, 2013

Jangan Memotong Kiswah untuk Jimat


Pembimbing umrah dan pengajar Pontren BPPI Cijerah Bandung, Ustaz H. Asep Kholid Firdos mengatakan, Kabah adalah bangunan yang paling ingin dilihat dengan mata kepala sendiri oleh para Muslim ketika memiliki kesempatan untuk mengunjungi Tanah Suci.

“Banyak Muslim yang merasa belum lengkap haji atau umrahnya bila belum menyentuh Kabah dengan tangan telanjangnya, terutama ketika tawaf. Tentu sentuhan tangan jemaah haji maupun umrah bisa menyebabkan kiswah menjadi rusak,” kata Ustaz Asep Kholid, di pesantrennya, Jumat (4/10/13).

Untuk itu, menjelang puncak musim haji, pihak kerajaan menggulung kiswah hingga tiga meter di atas permukaan tanah sehingga tak bisa dipegang jemaah haji. “Sebagai gantinya, Ka'bah dilindungi dengan kain berwarna putih dengan tinggi dua meter dan lebar 47 meter,” ujarnya.

Setiap tahun, kiswah lama diangkat, dipotong-potong menjadi beberapa bagian kecil dan dihadiahkan kepada beberapa orang, pejabat Muslim asing yang berkunjung dan organisasi asing. “Pada masa-masa sebelumnya, Umar bin Khattab memotong-motongnya dan membagi-bagikannya kepada para jamaah yang hendak menggunakannya sebagai pelindung dari panasnya suhu kota Makkah,” katanya.

Namun, Ustaz Asep Kholid mengingatkan jemaah haji untuk tidak merusak kain kiswah dengan cara mengguntingnya lalu dipakai sebagai jimat. “Masih ada jemaah haji yang berupaya memotong kiswah Kabah dengan cara mengguntingnya lalu dijadkan jimat agar dagangannya laris atau niat lainnya. Kita harus luruskan niat saat beribadah haji sehingga bisa terhindar dari hal-hal yang berbau syirik,” katanya.

Sumber: Pikiran Rakyat

Monday, September 23, 2013

Hajjar Aswad


Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam yang berada disudut tenggara Ka’bah, dilingkari besi putih yang diikat dengan timah, terletak kira-kira setinggi satu setengah meter dari permukaan lantai Masjid. Dari sudut inilah putaran Thawaf dimulai dan diakhiri, dan kalau keadaan memungkinkan, setiap mulai putaran, disunnahkan mencium atau menyalami atau mengusap dengan tangan kanan pada Hajar Aswad ini, dan kalau tidak mungkin, disunnahkan melambaikan tangan kanan seolah-olah memberi isyarat menyalami.
 
Mencium Hajar Aswad di luar waktu Thawaf juga disunnahkan dengan niat mengikuti petunjuk Nabi. Dalam salah satu riwayat Nabi pernah bersabda; “Nanti pada hari kiamat, Hajar Aswad akan tampak memiliki mulut dan menyatakan atau menyaksikan siapa-siapa yang pernah mencium atau menyalami dia dengan niat baik”. Dalam salah satu riwayat Bukhari Muslim, diterangkan bahwa Sayyidina Umar (Kalifah II) sebelum mencium Hajar Aswad mengatakan, “Demi Allah, aku tahu bahwa kau adalah sebuah batu yang tidak dapat berbuat apa-apa, kalau aku tidak melihat Nabi Rasul Allah mencium-mu tidak akan aku mencium-mu”. Jadi mencium Hajar Aswad ini bukanlah suatu kewajiban bagi umat Islam, tetapi merupakan anjuran dan sunnah hukumnya, maka kalau keadaan tidak memungkinkan karena penuhnya orang berdesakan, sebaiknya anda urungkan saja niat anda mencium atau mengusap batu itu dan gantilah dengan menyalami (istilam) dari jauh. Karena sudah banyak kasus kecelakaan (terinjak-injak) di sekitar tempat ini.

Menurut sejarahnya, batu ini ketika diturunkan dari Sorga, berwarna putih mengkilap kemudian karena kedurhakaan anak-anak Adam, batu ini makin hitam dan makin hitam. Sejarah batu ini sangat panjang sepanjang sejarah Ka’bah. Salah satu peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah ( 606 M), yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena ada empat kabilah dalam suku Quraisy sudah saling bersitegang mempertahankan pendapat masing-masing dalam perselisihan tentang siapa yang berhak mengangkat dan meletakkan batu ini pada tempatnya setelah pemugaran Ka’bah selesai.
Selama lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, akhirnya munculah usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumi yang mengatakan, “Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini”. Karena Abu Umayyah orang tertua di antara orang-orang Quraisy, maka pendapatnya disepakati. Ternyata orang yang pertama kali masuk masjid pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah (35 tahun) yaitu Nabi Muhammad sebelum menjadi Nabi yang pada saat itu sudah bergelar Al-Amin (orang yang terpercaya) karena beliau tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji, hal ini sudah menjadi rahasia umum dan seluruh penduduk Makkah mengakuinya. Maka mereka langsung minta kepada beliau untuk mengambil keputusan tentang pertikaian yang berbahaya ini. Kemudian Muhammad bin Abdullah menuju tempat penyimpanan batu itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu ditengah-tengah sorban, lantas menyuruh seorang wakil masing-masing kabilah yang sedang bertengkar. Maka empat orang itulah yang mengangkat batu itu secara bersama-sama, lalu Muhammadlah yang memasang pada sudut Ka’bah dan terhindarlah adu senjata.
Kisah inilah yang mengilhami sebagian orang bahwa peletakan batu tertentu (misalnya batu pertama) pada suatu bangunan memiliki nilai yang sangat penting dan berharga karena menyangkut sejarah perjalanan kehidupan.
Kisah lain yang sangat penting adalah yang terjadi pada musim haji tahun 317 H, pada saat itu dunia Islam sangat lemah dan bercerai berai sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh Abu Tahir Al-Qurmuhi seorang kepala suku Jazirah Arab bagian Timur untuk melampiaskan nafsu angkara murkanya, maka dengan keji ia bersama anak buahnya sebanyak 700 orang bersenjata perang mendobrak Masjid Al-Haram dan membongkar Ka’bah dan mengambil Hajar Aswad dengan paksa kemudian dibawa ke negaranya di kawasan Teluk Persia sekarang. Kemudian menantang umat Islam agar mengambil batu itu, boleh dengan perang atau dengan membayar sejumlah uang yang pada saat itu sangat berat bagi umat Islam. Baru setelah 22 tahun (tahun 339 H) batu itu dikembalikan ke Makkah oleh Khalifah Abbasiyah Al-Muthi’ Lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30,000 Dinar.
Dalam kitab Ikhbarul-Kiraam diterangkan bahwa ketika Abdullah bin Akim (utusan Khalifah Al-Mukthi’ Lillah) menerima batu dari pemimpin suku Qurmuth itu langsung dimasukkan kedalam air dan tenggelam, kemudian diangkat dan dibakar ternyata pecah, maka ia menolak batu itu dan dinyatakan palsu. Dengan tenang pemimpin Qurmuth itu memberi batu yang kedua yang sudah dilumuri minyak wangi dan dibungkus dengan kain sutera yang sangat cantik. Namun Abdullah tetap melakukan seperti pada yang pertama, dan ternyata hasilnya juga seperti yang pertama, maka ia minta yang aslinya, dan oleh pemimpin suku Qurmuth itu diberikan padanya batu yang ke tiga. Tetapi oleh Abdullah batu inipun diperlakukan seperti yang sebelumnya, dan sungguh-sungguh luar biasa ternyata batu itu tidak tenggelam malah terapung di atas air, ketika dibakar tidak pecah bahkan tidak merasakan panas. Maka Abdullah dengan puas mengatakan, “Nah inilah dia, batu kita”. Dengan terheran-heran pemimpin Qurmuth bertanya,”Darimana anda dapat ilmu ini?”. Abdullah menjawab, “Nabi pernah mengatakan, Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah yang ada di bumi, pada hari kiamat nanti tampak memiliki mulut dan menyaksikan siapa-siapa yang pernah menyalaminya dengan niat baik atau tidak baik , tidak akan tenggelam di dalam air dan tidak panas dalam api”. “Inilah agama yang benar-benar tuntunan dari Allah (bukan produksi akal)”, demikian pemimpin Qurmuth itu berkomentar.
Kepada pemimpin Qurmuth ini Allah menurunkan siksa berupa penyakit yang tidak dapat disembuhkan sampai bertahun-tahun lamanya dan akhirnya semua persendiannya saling berlepasan, semacam penyakit lepra yang sangat parah, dan matilah dia.

MULTAZAM      
Kalau diartikan secara harfiyah, Multazam bermakna tempat yang amat diperlukan. Tetapi kalimat ini sudah menjadi nama tempat tertentu yaitu antara sudut Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat inilah yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tempat yang paling mustajab untuk berdoa.

"Rasulullah SAW bersabda “Multazam adalah tempat berdoa yang paling mustajab (terkabul), tidak seorang pun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa terkabul permintaannya.”
Rasulullah sendiri kalau sampai di tempat ini langsung menempelkan dadanya, wajahnya atau pipinya, kedua lengan, dan kedua telapak tangannya pada Ka’bah dan meratap dalam berdoa.
Dalam kitab AKHBAR MAKKAH diterangkan bahwa ketika Nabi Adam selesai melakukan Thawaf (yang pertama kali) langsung ia lakukan shalat dua rakaat di depan pintu Ka’bah, terus berdiri di Multazam dan berdoa:

“Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui segala apa yang aku rahasiakan dan segala apa yang aku lakukan terbuka, terimalah pengaduanku. Engkau Maha Mengetahui apa yang ada di dalam jiwaku dan segala apa yang ada padaku, ampunilah segala dosa-dosaku. Engkau Maha Mengetahui segala apa yang aku perlukan, berikanlah kepadaku apa yang aku minta. Ya Allah aku mohon kepadaMu iman yang memenuhi hati dan keyakinan yang mantap benar sehingga menyadarkan aku bahwa tidak akan ada yang mencelakanku kecuali apa yang telah Kau pastikan untukku, dan menyadarkan aku sehingga aku rela atas apa yang Kau tetapkan untukku”
Setelah berdoa seperti di atas, Allah menurunkan wahyu kepadanya yang artinya, “Wahai Adam, kau telah berdoa dengan beberapa permintaan, aku penuhi semua permintaan itu. Dan siapa pun dari anak-anakmu yang berdoa dengan doamu itu, pasti aku hilangkan keresahan dan kesedihannya, dan aku kembalikan apa yang hilang dari padanya, dan aku cabut dari hatinya perasaan miskin, dan aku jadikan kaya dia dalam kenyataan, dan aku sukseskan perdagangan untuknya dari belakang dunia perdagangan, sehingga kekayaan dunia berdatangan kepadanya walaupun tanpa dia kehendaki”.

Mina



Mina adalah lokasi di Tanah Haram yang didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzul Hijjah atau sehari sebelum pelaksanaan Wukuf di Arafah. Mereka tinggal di sini sehari dan semalam penuh sehingga dapat melaksanakan shalat Dzuhur. Ashar, Maghrib, Isya’, dan Subuh. Kemudian, setelah shalat Subuh tanggal 9 Dzul Hijjah mereka berangkat ke Arafah. Amalan ini seperti yang dilakukan Rasul Allah ketika beliau beliau berhaji dan hukumnya sunnah. Mereka masuk ke Mina lagi dan tinggal di sini setelah Wukuf di Arafah sampai tanggal 12 atau 13 Dzul Hijjah.
Keperluan mereka di sini setelah Wukuf di Arafah adalah untuk bermalam di malam hari dan melempar Jumrah pada siang hari yaitu tanggal 10, 11, 12 Dzul Hijjah untuk mereka yang ber-Nafar Awal, dan tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah bagi mereka yang ber-Nafar Tsani. Dua amalan ini (bermalam dan melempar Jumrah) adalah termasuk amalan Wajib Haji.
Kalau diartikan secara harfiah, Mina berarti tempat tumpahan darah binatang yang disembelih. Ini sesuai dengan kenyataan yang berlaku bahwa di daerah ini setiap tahun disembelih sekitar satu juta ekor binatang yang terdiri dari unta, sapi, dan kambing. Maka, kawasan 9 km di sebelah timur Masjidil Haram ini diberi nama Mina.
 Kawasan ini pada hari-hari biasa kosong tidak berpenduduk walaupun tampak banyak bangunan permanen. Namun pada setiap tanggal 10 Dzul Hijjah dan beberapa hari sebelum dan sesudahnya pasti dipadati tidak kurang dari dua juta orang jamaah Haji dan lainnya.
Kawasan ini sebetulnya tidak luas, hanya panjangnya dari arah Makkah dibatasi Jumrah Aqabah dan dari arah Arafah dibatasi Wadi Muhasir yang mana dikedua tempat itu oleh pemerintah Arab Saudi  ditandai dengan petunjuk yang ditulis dengan berbagai bahasa jaraknya sekitar 3,5 Km. Adapun lebarnya dibatasi oleh dua buah bukit yang berhadap-hadapan yang berarti di balik kedua bukit itu adalah di luar Mina. Namun menurut fatwa Ketua Majelis Ulama Arab Saudi, daerah Mu’aisim adalah masuk kawasan Mina. Wallahu A’lam.
Mina termasuk tempat ibadah sebagaimana Arafah, karena tidak sah hukumnya bermalam di luar Mina sebagaimana tidak sah Wukuf di luar Arafah. Jadi sebenarnya tanah di sini tidak boleh dimiliki perorangan sebagaimana Masjid, dan yang boleh adalah menempati untuk keperluan ibadah dalam masa ibadah saja. Sesuai dengan riwayat Aisyah, istri Nabi, “Ya Rasul Allah, perlukah kami buatkan rumah di Mina untuk Anda berteduh?”. Rasul menjawab, “Jangan! Sesungguhnya Mina adalah tempat duduk orang yang lebih dulu datang”.
Melihat larangan Nabi di atas, maka masyarakat mendukung rencana Raja Fahd yang  meratakan Mina kemudian membangun semacam bangsal raksasa beberapa floor memanjang di sebelah kiri dan kanan Jumrah yang dilengkapi dengan segala sarana termasuk, air, listrik, telepon, restoran, poliklinik, Escalator, dan AC. Di bagian atas ditutup dengan roofing tenda raksasa seperti di terminal haji airport Jeddah. Bangunan ini direncanakan dapat menampung 4 juta orang.

TEMPAT-TEMPAT PENTING DI MINA
1.      Jamarat (Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta, Jumrah Ula)
2.      Al-Manhar (Jabal Qurban), lokasi penyembelihan binatang qurban
3.      Masjid Al-Khaif. Lokasi Nabi Muhammad SAW melakukan shalat dan khotbah ketika berada di Mina sewaktu haji
4.   Masjid Al-Baiah. Lokasi Nabi Muhammad SAW dibaiat oleh orang-orang Anshor yang datang dari Madinah 1 tahun sebelum hijrah.

KEISTIMEWAAN MINA
1.  Kawasan ini pada hari-hari biasa tampak sempit dan menjadi luas secara otomatis sehingga dapat menampung berjuta-juta orang, hal ini sesuai dengan ucapan Rasul Allah SAW, “Sesungguhnya Mina itu seperti rahim, yang mana ketika terjadi kehamilan, diluaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Maka sudah semestinya kita tidak perlu khawatir tidak dapat tempat di Mina pada waktu haji.
2.   Batu kerikil yang dilontarkan waktu Jumrah adalah diangkat oleh Malaikat ke langit bagi batu yang dilontarkan oleh jamaah haji yang hajinya diterima oleh Allah SWT. Dan batu yang dilontar oleh mereka yang hajinya tidak diterima, dibiarkan menetap di sekitar Jumrah yang akhirnya dibersihkan oleh petugas kebersihan.
Hal ini sesuai dengan ucapan Abdullah Ibnu Umar salah seorang sahabat Nabi yang sangat alim, “Demi Allah, sesungguhnya Allah mengangkat ke langit batu yang dilontarkan ke Jumrah oleh mereka yang hajinya diterima oleh-NYA”. Dalam kita Syifa’ Al-Gharam   diterangkan bahwa Syeikh Abu Nu’man Al-Tabrizi yaitu Mufti Masjidil Haram pada zamannya pernah dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan betapa batu-batu itu berterbangan naik ke atas kearah langit.
Sudah banyak ahli-ahli riset melakukan penelitian tentang batu ini, dan mereka berkesimpulan rata-rata setengah dari jumlah batu yang dilempar ke Jumrah tidak ditemukan lagi.
Penulis sempat menangis di dekat Jumrah Aqabah, ketika selesai mengadakan riset tentang jumlah batu ini yang berkesimpulan bahwa batu yang diambil petugas kebersihan adalah lebih setengah jumlah batu yang dilempar jemaah haji, berarti yang diterima oleh Allah SWT tidak ada setengahnya dari seluruh jamaah haji yang melontar Jumrah. Penulis merenung dan menerawang penuh tanda tanya apakah batu yang aku lempar termasuk batu yang ada di depanku…?, yang sedang dikeruk dan dinaikkan ke atas truck untuk dibuang seperti sampah…?., dan mengapa Allah hanya menerima sebagian kecil dari hambanya yang sudah jauh-jauh dating ke sini segala kesulitan dan ketabahan agar dapat diterima dalam memenuhi pangilan-NYA..?. Apakah ini semua karena sebagian besar jamaah tidak mengindahkan peraturan ibadahnya sehingga mereka hanya melakukan amalan-amalan yang sesuai dengan rasionya dan sifat kemalasannya…?, ataukah ini hanya peringatan untuk-ku agar lebih mendekatkan diri pada-NYA..?.
Jadi kenyataan yang dihadapkan pada penulis pada saat itu adalah merupakan hal yang tidak masuk akal penulis kecuali kemudian penulis yakin bahwa batu-batu itu memang sebagian dibawa oleh para Malaikat ke langit sesuai dengan perintah Allah SWT.

ICMI Orsat Madinah

Ka'bah dan Sekitarnya



Ketika salah seorang Quraisy yang ikut membangun Ka’bah memasukkan tongkat pengungkitnya di antara dua buah batu agar dapat mengambil salah satunya untuk mendapatkan dasar atau pondasi bangunan Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, bergeraklah batu itu yang diikuti getaran bumi sekitar Makkah dan ketika dicoba lagi juga bergetar lagi. Maka mereka menetapkan mulai dari dasar pondasi itulah Ka’bah dibangun kembali (tahun 606 M).

Pembangunan yang dilakukan oleh orang Quraisy ini adalah pembangunan yang kedelapan, yaitu pertama oleh para Malaikat, kedua oleh Nabi Adam, ketiga kali oleh Syits bin Adam, keempat oleh Nabi Ibrahim, kelima oleh suku Amalik, keenam kali oleh suku Jurhum, ketujuh kali oleh Qushayyi bin Kilab.

Kemudian setelah orang Quraisy, pembangunan dilakukan lagi pada tahun 683 M oleh Abdullah bin Zubair bin Awwan. Dan pada tahun 684 M dilakukan pembangunan lagi oleh Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi. Adapun yang sampai sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan Sultan Murad IV Al-Utsmani pada tahun 1630 M.
Nama Ka’bah diambil dari bahasa Arab yang berarti bangunan segi empat. Menurut sebagian orang, bangunan bersegi empat adalah melambangkan persatuan yang kokoh karena terdiri dari empat sisi yang satu dengan lainnya saling memperkuat untuk berdiri. Adapun kenyataan yang ada pada Ka’bah adalah bahwa sisi satu dengan sisi yang lain adalah tidak sama panjang walaupun kalau kita pandang tampak sama, itu memberi isyarat bahwa persatuan umat Islam adalah dalam akidah dan qiblat, bukan dalam bentuk dan kelompok.

Sejak zaman Nabi Ismail, Ka’bah sudah dibajui atau diberi penutup semacam curtain dari luar yang disebut KISWAH. Yang pertama member Kiswah dari bahan sutera adalaj Hajjaj, yaitu pada tahun 684 M. Adapun kiswah hitam yang sekarang ini adalah bikinan pemerintah Arab Saudi. Terdiri dari sutera asli yang beratnya sampai 670 Kg dan dilengkapi kaligraphi dari benang emas. Kiswah ini ada dua bagian  yaitu bagian luar berwarna hitam dan yang bagian dalam Ka’bah berwarna hijau. Dibikin oleh sebuah pabrik khusus yang ada di Makkah dengan peralatan modern dan tenaga ahli yang berjumlah 240 orang. Dalam satu tahun Ka’bah dicuci dua kali yaitu pada awal bulan Dzul Hijjah dan pada awal bulan Sya’ban, namun kiswah hanya diganti sekali dalam satu tahun dengan anggaran 17 juta Real Saudi (± US$ 4,550,000) untuk satu kiswah.

Selain sebagai Bangunan yang Pertama Kali di Bumi ini, Ka’bah juga memeliki Keistimewaan-keistimewaan antara lain;
1.   Ia berada pada satu garis lurus dengan Bait Al-Makmur, yaitu pusat ibadah para Malaikat di langit.
2.   Jika memandangnya dengan khidmat kita mendapat ketenangan, apalagi kalau dibarengi dengan membaca berulang-ulang;



Artinya: Ya Allah Engkau Maha Damai, dan dari Engkau-lah kedamaian, maka berilah aku kehidupan yang damai.
3.   Setiap hari (setiap 24 jam) Allah menurunkan 120 rahmat di Ka’bah ini, yang enam puluh diberikan kepada mereka yang sedang thawaf, yang empat piluh diberikan kepada mereka yang shalat, dan yang dua puluh diberikan kepada mereka yang sedang memandangi Ka’bah.

DALAM KA’BAH
Melalui pintu yang berlapis emas, orang dapat masuk ke dalam Ka’bah dan melakukan shalat atau berdo’a di dalamnya. Namun demi menjaga kesucian Ka’bah tidak semua orang boleh masuk ke dalamnya, kecuali mereka mendapat izin dari Raja Saudi atau Wali Kota Makkah.

Di dalam Ka’bah terdapat 3 buah tiang yang diameternya kira-kira setengah meter dan terbuat dari kayu yang berwarna merah kekuning-kuningan. Tiang ini dipasang oleh Abdullah bin Zubair (tahun 683 M) untuk penyangga loteng. Di antara tiga tiang besar itu dipasang kayu melintang dari Utara ke Selatan, tingginya kira-kira 2/3 tinggi Ka’bah. Disitu digantung lampu beraneka ragam, hadiah yang diterima Ka’bah sejak zaman dulu. Kecuali lantai, semua sisi dalam Ka’bah ditutup oleh curtain dari sutera yang sangan anggun, berwarna hijau untuk dinding samping dan merah mawar untuk loteng. Adapun lantainya adalah marmer putih, hanya sedikit yang berwarna lain.



BERSIH DAN WANGI KA’BAH
Nabi Muhammad SAW, memerintahkan untuk menghancurkan patung-patung peninggalan zaman Jahiliyah yang disimpan di dalam Ka’bah kemudian untuk menghilangkan sisa-sisa dan bekas-bekas kemusyrikan, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk mencuci Ka’bah. Maka segeralah kaum muslimin mengambil air Zamzam, lalu mencuci bagian luar dan dalam, sehingga terkikis habis bekas-bekas orang musyrik. Ini terjadi ketika Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin berhasil menaklukkan kota Makkah. Setelah itu menjadi kebiasaan untuk mencuci Ka’bah setiap tahun.

Upacara pencucian ini biasanya dihadiri oleh raja-raja, menteri-menteri, tokoh-tokoh masyarakat, dan utusan-utusan dari Negara-negara Islam yang sengaja diundang oleh Pemerintah Arab Saudi. Dan dalam kesempatan seperti ini mereka diizinkan memasuki Ka’bah. Setelah bersih dicuci dengan air Zamzam, Ka’bah disiram berulang kali dengan air mawar dan pewangi lainnya, lalu diasapi dengan asap kayu ambar, kayu gaharu dan semacamnya. Maka kalau kita ada di sekitar Ka’bah hidung kita mencium bau wangi yang seolah memancar dari Ka’bah.

Dengan demikian jelaslah bahwa kebersihan dan bau yang menyenangkan adalah telah menjadi budaya umat Islam sejak Nabi Muhammad SAW.

MIZAB KA’BAH (Talang Emas Ka’bah)
Yang pertama kali memberi atap (loteng) pada Ka’bah adalah suku Quraisy ketika mereka membangun Ka’bah. Karena ada atapnya maka memerlukan pancuran air (talang) untuk membuang air hujan. Talang ini mereka bikin pada sisi menghadap Hijir Ismail dan mereka beri nama Mizab.

Pada tahun 317 H salah seorang pengikut Abu Taher Al-Qurmuthi sudah memanjat tembok Ka’bah untuk merampas Mizab yang pada saat itu sudah dilapisi dengan emas dan tampak sangat cantik. Namun ketika tangannya hampir sampai pada Mizab, jatuhlah orang itu ke lantai Hijir Ismail dan langsung meninggal dunia.
Mizab ini sudah berkali-kali ganti dan yang ada sampai sekarang adalah Mizab hadiah dari Sultan Abdul Majid Khan bin Sultan Muhammad Khan dari Konstantinopel pada tahun 1276 H (1859 M). Mizab tersebut dilapisi dengan emas kira-kira seberat 40 Kg.

Di bawah Mizab ini termasuk tempat tempat yang baik untuk berdo’a, sehingga pada suatu ketika Sayyidina Utsman bin Affan berkata kepada rombongannya, “Tanyakan kepadaku dari mana aku tadi?”. “Aku baru dari pintu Sorga”, jawab Sayyidina Utsman. Padahal baru saja beliau berdiri di bawah Mizab dan berdo’a disitu (keterangan dari kitab Fii Rihabi Baitil Haram).

Pada waktu hujan, banyak orang dengan sengaja berusaha mendapatkan air yang turun dari pancuran emes ini, sampai berebut, dan ada kalanya yang baku hantam. Hal ini adalah tidak berdasar dan tidak dianjurkan dalam Islam, harap dijauhi


Referensi: ICMI Orsat Madinah

Masjid AL-Haram Makkah


Sebagai pusat kota Makkah adalah Masjid Al-Haram, dimana di dalamnya terdapat Ka’bah sebagai Qiblat umat Islam pada waktu shalat. Masjid ini mula-mula dibangun permanen oleh Sayyidina Umar bin Al-Khattab pada tahun 638 M., karena sebelum itu Masjid hanya berupa halaman kosong sekeliling Ka’bah yang dibatasi rumah-rumah penduduk dan gang atau lorong diantara rumah-rumah itulah yang disebut pintu Masjid. Kemudian Umar membeli tanah dan rumah=rumah itu untuk dibangun masjid yang mengelilingi Ka’bah. Kemudian tahun 646 M. Sayyidina Utsman bin Affan memperluas bangunan masjid itu dengan cara yang sama yaitu membeli tanah dan rumah-rumah di sekeliling Masjid lalu didirikan bangunan permanen.

Dari masa ke masa masjid ini selalu mengalami pembaharuan dan perluasan yang diprakarsai oleh raja-raja Islam yang berperhatian terhadap Masjid. Dan yang paling besar dalam sejarah adalah yang diprakarsai ole Raja Fahd bin Abdul ‘Aziz yang bergelar PELAYAN DUA TANAH HARAM, ayahanda Raja Arab Saudi saat ini.

Pada hari ini Masjid Al-Haram sudah menjadi seluas 366,000 meter persegi dan dapat menampung jamaah 914,000 dalam satu waktu shalat berjamaah pada hari-hari biasa, dan lebih dua juta limaratus ribu jamaah pada waktu musim haji. Sebelum diperluas oleh raja Fahd, luas masjid ini 151,000 meter persegi dan hanya dapat menampung jamaah 313,000 pada hari biasa dan kurang lebih setengah juta orang pada waktu musim haji.

Masjid ini yang karena bentuknya relatif bulat melingkari Ka’bah, maka pintunya sangat banyak yaitu ada 4 pintu utama dan 45 pintu biasa yang buka 24 jam. Karena itu, untuk anda yang baru pertama haji dating ke sini, sebaiknya mengingat dari pintu-pintu mana anda masuk.. Catatlah nomor atau nama pintu itu (semua pintu ada nomor dan namanya) agar balik dari Masjid ke penginapan anda tidak salah jalan atau sesat.

Keistimewaan masjid ini banyak sekali antara lain adalah; Shalat di masjid ini lebih utama dari pada shalat seratus ribu kali di masjid lain, begitupun berdzikir, berdo’a, bersedekah, dan beramal baik lainnya. Datang ke masjid ini dengan niat tidak baik atau akan berbuat lalim, Allah langsung mengadzabnya dengan siksa yang amat pedih.

TEMPAT PENTING DI MASJID INI SELAIN KA’BAH ADALAH;
1. Makam Ibrahim: Batu pijakan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah, juga ketika memanggil manusia untuk berhaji.
2. Hijir Ismail: Kubur Nabi Ismail dan ibunya
3. Sumber Air Zamzam: Mata air yang di dekat Ka’bah
4. Mas’a: Tempat melakukan Sa’I yaitu antara bukit Safa dan bukit Marwa yang ada di samping masjid.
Tempat-tempat ini akan dijelaskan secara rinci di bab-bab tersendiri.

Tentang Kota Mekkah


Makkah adalah nama kota yang pertama kali ada di bumi, karena Nabi Adam adalah orang pertama yang bermukim di tempat ini, kemudian dari sinilah keturunannya berkembang ke segala penjuru bumi. Ketika Nabi Adam pertama kali tinggal di sini, beliau minta kepada Allah agar diselamatkan dari godaan Iblis yang telah menggodanya di Sorga, kemudian para Malaikat turun ke bumi mengelilingi tempat Nabi Adam untuk menjaga agar Iblis tidak dapat mencapainya, lantas tempat para Malaikat berjaga itulah yang menjadi batas TANAH HARAM MAKKAH.

Kota Makkah selalu berkembang dan berkembang menjadi amat besar sekali pada hari ini, namun “Tanah Haram Makkah” tidak akan ikut berkembang karena batasnya sudah ditetapkan yaitu dari arah Utara Masjid Al-Haram ± 7 kilometer, dari arah Selatan ± 13 kilometer, dari arah Barat ± 25 kilometer, dan dari arah Timur ± 25 kilometer. Di sinilah Ka’bah dan Masjid Al-Haram ditetapkan oleh Allah, di sinilah Nabi akhir zaman dilahirkan, di sinilah binatangburuan tidak boleh diburu, pepohonan tidak boleh dirusak, tanah dan batunya tidak boleh dibawa keluar, dan orang-orang non muslim tidak boleh masuk.

Kota ini secara geografis terletak antara 39-40 derajat garis Bujur Timur dan 21-22 derajat garis Lintang Utara. Jarak dari kota Jeddah 74 kilometer, dari kota Thaif 80 kilometer, dari kota Madinah 470 kilometer, dan dari kota Riyadh 990 kilometer. Permukaan kota ini tidak rata, banyak bukit dan gunung batu yang tandus. Tinggi dataran ini dari permukaan laut kira-kira 280 meter.

Pada bulan Juli dan Agustus suhu di kota ini sangat panas sampai 54 derajat Celcius, pada bulan Desember dan Januari sangat dingin sampai 10 derajat Celcius. Sepanjang tahun sangat jarang turun hujan.

Datang ke kota ini adalah kewajiban bagi ummat Islam di manapun ia berada yaitu untuk berhaji atau umrah (selama hidup satu kali), karena itu di antara mereka yang selesai berhaji tidak kembali ke tanah airnya dan menetap di sini dengan alasan masing-masing. Maka sekarang banyak kita jumpai penduduknya yang bukan asli Arab. Untuk memudahkan para pengunjungnya, kota Makkah sekarang sudah menata dirinya dengan mengatur jalan-jalan yang bagus dan dapat ditempuh dari segala penjuru berupa jalan layang. Jalan bawah tanah, terowongan (tunnel) yang sambung menyambung, beberapa jalan lingkar, dan terakhir penambahan sarana Kereta Api. Juga dibangun hotel-hotel bertaraf international dan dibangun jaringan-jaringan komunikasi ke seluruh penjuru bumi, sehingga dari pinggir jalan di kota ini anda dapat kontak kawan anda dimana saja dengan biaya relatif sangat murah. Harga hotel pun relatif lebih murah dibanding dengan hotel-hotel di Negara lain.



















Sumber: ICMI-Orsat Madinah