Showing posts with label Amanah Muslim. Show all posts
Showing posts with label Amanah Muslim. Show all posts

Wednesday, March 15, 2017

Amanah Muslim Motif




Visi 

Menjadi perusahaan distribusi yang sehat serta memiliki dasar falsafah yang kokoh, tiang kerja cerdas yang kuat dan atap kepercayaan diri yang mampu memberikan kenyamanan bagi seluruh Mitra Kerja. Sehingga kami dapat menjadi perusahaan distributor berskala nasional terpercaya.

Misi

Memberikan layanan terbaik dalam bidang kerja penyaluran/distribusi barang secara cepat, tepat dan tersistem dengan dukungan teknologi informasi yang handal untuk pelayanan secara offline (conventional marketing) maupun online (cyber marketing).

Target Pemasaran

Mencakup SES B, C+/C (medium low). Keunggulan Produk Kami Menggunakan Produk Berkualitas berjenis cotton kaos yang jauh lebih nyaman digunakan dalam keseharian (daily clothing) namun tetap pantas untuk dekanakan dalam acara formal. Model-model sangat variatif dengan ciri khas grafis yang unik mengunakan teknik printing floaking paper transfer maupun conventional screen process. 



Semua Proses Produksi dari desain hingga finishing QC dilakukan dalam workshop milik sendiri yang berlokasi d Bandung, sehingga harga produk relatif jauh lebih kompetitif.

Pada awal didirikanya hanya untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan bidang distribusi barang secara konvensional namun berdasarkan tuntunan perkembangan jaman maka kami mengembangkan pemasaran melalui Internet (Cyber Marketing) secara progresif, militan, dan fokus.

Dan didukung oleh tenaga muda yang sanggup bekerja keras, masih segar dalam ide/gagasan baru yang inovatif dan kreatif merupakan tenaga kerja yang berkomitmen tinggi serta handal dengan dukungan manajemen perusahaan yang solid.










Saturday, January 25, 2014

Berbisnis untuk Menolong Agama Allah


Ia sama sekali tak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman di bidang bisnis. Namun, ia mantap meninggalkan pekerjaannya yang cukup mapan di perusahaan penerbangan demi mendapatkan kenyamanan beribadah.

Ir. Djoko Sasongko, alumnus teknik fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sudah 16 tahun terjun di bidang penerbangan. Pekerjaan mengharuskannya sering menetap di luar negeri. Tak dinafikan, limpahan materi ia terima. Dalam sebulan, misalnya, ia bisa menabung 100 juta rupiah. Namun, jiwanya tak tenang. Bekerja di negara di mana Muslim menjadi minoritas, membuatnya tak leluasa untuk beribadah.

Selain soal ibadah, sistem kontrak yang diterapkan perusahaan pun menimbulkan ketidakpastian posisi, karena sewaktu-waktu kontraknya bisa saja diputus. “Kalau saya punya penghasilan 10 juta rupiah per bulan, saya akan tinggalkan pekerjaan ini,” pikirnya, suatu ketika.

November 2003, Djoko dan istrinya, Ir. Hj. Prawestri mantap membangun bisnis dengan membuka toko perlengkapan Muslim bernama Amanah Muslim di Pasar Baru Trade Center, Bandung, Jawa Barat.

Meski hanya menempati kios berukuran 6,25 meter persegi dan menjual sedikit barang, ia tak ragu mendeklarasikan impiannya untuk membangun Amanah Muslim menjadi one stop shopping berbagai perlengkapan ibadah kaum Muslim dan mempromosikannya di media massa. Pada awal membangun bisnis, Prawestri-lah yang focus mengelola toko. Sedangkan Djoko masih bekerja di PT Dirgantara Indonesia dan sesekali bekerja di luar negeri.

Mencari Akhirat

Bukan tanpa alasan jika akhirnya Djoko membuka toko perlengkapan Muslim –terinspirasi oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz dari Arab Saudi yang mendapat gelar Khadimul Haramain (pelayan dua Tanah Suci, yakni Makkah dan Madinah)− maka ia pun ingin menjadi pelayan bagi saudara sesama Muslim yang ingin beribadah.

Oleh karena itu, ia menjual barang dengan harga relative murah sehingga terjangkau bagi konsumen. Dengan begitu, ia berharap bisa turut membantu kaum Muslim yang ingin beribadah. Melalui bisnis, ia tak hanya mencari dunia, tapi juga akhirat.

“Subhanallah, dengan membatasi profit yang lebih tipis, kemajuannya seperti berlari. Allah memberi banyak kemudahan yang kalau dengan hitunghitungan logika tidak nyambung. Bayangkan, yang semula targetnya hanya 10 juta, sekarang insya’ Allah apa yang saya capai (dulu) di luar negeri pun sudah mulai terjangkau. Semua ini tidak akan bisa, kalau bukan karena (izin) Allah,” ujar ayah dua anak ini.

Dari lima toko −yang menjual perlengkapan haji dan umrah, pakaian anak, busana Muslim dan toko buku− kini Djoko meraih omset sekitar 600 juta rupiah per bulan. Jatuh bangun dalam bisnis yang diperkirakan terjadi selama tiga tahun pertama, nyatanya hanya dalam waktu 1,5 tahun penghasilan bisnis Djoko sudah melampaui target 10 juta rupiah per bulan.

Untuk Agama Allah

Ketika membangun bisnis dengan bendera Amanah Muslim, Djoko menetapkan visi yang sangat penting, yakni ia ingin mendedikasikan penghasilan bisnisnya untuk agama Allah.
 

Ia percaya pada janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Baqarah [2] ayat 245: “Barangsiapa yang member pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan Melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizqi) dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan.”

Pun, yang termaktub pada surah Muhammad [47] ayat 7, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Pada akhirnya, visi itu terefleksi dari berbagai upaya yang dilakukan Djoko dalam berbisnis. Selain menawarkan harga produk yang relatif murah, ia pun memenuhi janjinya untuk menolong agama Allah dengan selalu menyisihkan penghasilannya untuk bersedekah. Pun, memberangkatkan beberapa relasi untuk umrah. Tahun depan, Djoko berharap bias mengumrahkan karyawannya.

Bagi Djoko, membangun bisnis ia ibaratkan seperti membangun masjid. Ia harus membuatnya semegah mungkin dan bermanfaat bagi orang banyak. Berbeda halnya dengan rumah, ia memilih hidup sederhana. Karena prinsip Djoko, ia hanya menumpang hidup di dunia ini. Jadi, ia tak ingin menjalani gaya hidup yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah. “Karena itulah, hasil utama bisnis ini kami pakai untuk menolong agama Allah,” ujar pria yang lahir dari keluarga berada ini.




 One Stop Shopping
 
Belasan tahun bekerja di industri penerbangan yang kompetitif dan inovatif, membuat Djoko datang ke dunia bisnis dengan persiapan matang. Ia membuat perencanaan bisnis dengan target dan langkah-langkah yang jelas agar bisa mewujudkan impiannya menjadikan Amanah Muslim sebagai one stop shopping center untuk keperluan ibadah kaum Muslim.

Kepada pengembang (developer), Djoko menggagas ide untuk menjadikan lantai empat di Pasar Baru berkonsep sentra perlengkapan Muslim. Salah satu cara untuk merealisasikan ide itu Djoko menyarankan diselenggarakannya pameran haji dan umrah di gedung tersebut dengan menggandeng beberapa pengusaha biro perjalanan haji dan umrah. Maka, blok yang semula menjadi area ‘mati’, perlahan mulai ‘hidup’.

Strategi Bisnis

Biasa bekerja sebagai karyawan dengan nilai penghasilan yang pasti setiap bulannya, membuat Djoko kaget menghadapi ketidakpastian pendapatan dalam bisnis. Oleh karena itu, ia coba membuat terobosan dengan mulai merambah bisnis perlengkapan haji dan umrah. Meski haji memang terbilang musiman, namun umrah berlaku sepanjang tahun.

Pertumbuhan ekonomi masyarakat menengah atas yang cukup pesat juga membuat umrah menjadi hal yang lazim dilakukan. “Kalau dulu konsumen yang belanja senilai satu juta rupiah ke atas itu jarang, sekarang sudah luar biasa banyak.” Ditambah lagi dengan antrean panjang ibadah haji membuat mereka yang tak sabar ingin ke Tanah Suci memutuskan untuk umrah terlebih dulu.

Agar memperoleh pendapatan yang tetap, Djoko juga menggagas ide menjadi loper koran. Djoko melihat tiga ribu pedagang yang ada di Pasar Baru sangat potensial untuk menjadi pelanggan surat kabar. “Kalau sepuluh persen saja dari mereka berlangganan maka ada pemasukan yang tetap. Sekarang bisnis loper Koran dipegang oleh karyawan dan hasilnya juga untuk mereka.”


 Plan B

Meski terlihat bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan dan profesi sebelumnya, Djoko mengakui dengan latar belakang berbeda itu ia justru mendapat banyak keuntungan. Pendidikan misalnya, berkontribusi memperluas wawasannya sehingga ia bisa melihat permasalahan sebagai potensi dan lebih siap menghadapi perkembangan ke depan.

Dari pekerjaannya di industry pesawat terbang selama belasan tahun, ia belajar menjadi pengambil risiko (risk taker) yang berani dan penuh optimisme. Tentu saja sikap optimistis yang juga dibarengi dengan ikhtiar dan perencanaan yang baik. Dari ilmu pesawat terbang, ia juga belajar tentang mendesain sistem dengan tingkat kegagalan yang minimal. “Jika ada sistem di pesawat terbang yang tak berfungsi maka pesawat akan celaka/jatuh. Dengan demikian, kita harus merancang sistem yang hamper tidak pernah gagal. Karena, kalau yang mutlak tak pernah gagal kan hanya Allah,” ujar pria kelahiran Blitar, 17 Mei 1960.

Akan tetapi, secerdas dan sehebat apapun manusia merancang sebuah rencana, hasil akhirnya Allah yang menentukan. Terbiasa mengandalkan logika, Djoko pernah alpa menyadari hal ini. Pada tahun 2011, rencana bisnis yang sudah ia rancang dengan matang nyatanya meleset dari perkiraan. Semua jurus sudah ia keluarkan, tapi tak juga bias mengatasi masalah. Hal yang terlihat mudah, malah menjadi sulit.

Jika biasanya ia hanya harus mengeluarkan plan B, ketika rencana pertama tak berhasil, kali itu semua rencana yang ia buat menghadapi jalan buntu. Akibatnya, ia stres bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Dokter memberinya obat penenang, antimual, serta memberinya obat tidur. Sepulangnya dari rumah sakit, Djoko mulai menyadari semua yang menimpanya itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saat itulah ia memutuskan untuk umrah. Ia ingin bisa lebih mendekatkan diri padaNya. Meski saat itu ia tengah kesulitan keuangan, anehnya tatkala berniat umrah, segalanya dimudahkan oleh Allah. Bisnisnya kembali berjalan lancar bahkan pendapatannya lebih banyak sehingga ia bisa membayar biaya umrah. Meski sudah pernah berhaji, umrah kali itu ia rasakan luar biasa nikmat.

“Saya menangis di depan Ka’bah. Padahal ketika haji, saya heran kok bisa orang menangis seperti itu di depan Ka’bah. Saat itu hati saya benar-benar tergetar. Saya lepaskan semua unekunek dan menyadari bahwa semua ini datangnya dari Allah. Saya ikhlas dan menerimanya. Setelah itu hingga kini kalau ada permasalahan dan ikhlas, semua akan jadi ringan,” tuturnya.

Membina Karyawan

Menduduki beberapa posisi strategis di perusahaan penerbangan membuat Djoko memiliki banyak anak buah. Namun diakuinya, ada perbedaan mendasar tatkala ia harus membina karyawan tokonya. Ia ingin menciptakan lingkungan kerja yang Islami. Maka, nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja sama tim, kebersihan dan kerapian, serta konsistensi pada visi bisnis selalu ia tanamkan pada karyawan. Djoko juga selalu mengingatkan karyawannya agar mereka senantiasa menabung kebaikan, serta tidak sekali pun mengambil sesuatu yang bukan hak mereka.
 

“Kalau standar yang umum kan karyawan sekadar menunaikan kewajiban, selesai. Kalau saya selalu menyarankan, berikan ekstra. Nanti Allah yang berhitung. Insya’ Allah, kelebihan itu akan dikembalikan oleh Allah. Gaji yang diterima pun akan menjadi berkah.” Diakui Djoko, hal itu pula yang ia lakukan ketika masih bekerja di PT Dirgantara Indonesia. Ketika perusahaan vakum karena kekurangan proyek, di saat karyawan\lainnya banyak yang bolos atau bermalas-malasan, ia malah tetap memperkaya diri dengan ilmu. Karena, ia ingin memberikan sesuatu yang lebih pada perusahaan. Hasilnya, setiap kali ada tugas di luar negeri, Djoko selalu terpilih untuk dikirim karena dinilai lebih siap.

Menurut Djoko, kini ia memang perlahan mulai menyerahkan operasional bisnis pada karyawannya. Dua sampai tiga tahun ke depan, istrinya juga akan meninggalkan keterlibatannya di Amanah Muslim. Karena itulah, Djoko tengah mempersiapkan sebuah sistem untuk karyawannya agar siap ditinggalkan sepenuhnya. “Saya punya obsesi untuk terjun ke bidang yang lain, yakni agrobisnis, sekalian pulang kampung ke Blitar,” ujar pria yang rutin menyelenggarakan pengajian untuk karyawannya setiap Jumat pagi.

Menurut Djoko, selama 10 tahun membangun bisnis, ia bersyukur pergerakannya relatif terus naik. Meski begitu, kata Djoko, dalam hidup ini tak cuma materi yang harus meningkat, tapi juga iman, takwa dan ilmu yang dimiliki. Karena, tak ada yang lebih ia inginkan selain menjadi insan yang selamat dunia dan akhirat.


Sumber: Majalah AuliaEdisi Oktober 2013

Tuesday, October 1, 2013

KALEIDOSKOP DAN KENANGAN AMANAH MUSLIM





Monday, September 23, 2013

Amanah Muslim Magazines


Amanah Muslim Magazines adalah sebuah layanan yang ditawarkan untuk pelanggan Amanah Muslim khususnya dan untuk pengguna dunia maya pada umumnya, Amanah Muslim Magazines ini berisi tentang berita seputar Amanah Muslim, Informasi Produk, Informasi Haji,Informasi seputar Dunia Usaha, dan mengenai seputar wisata daerah Bandung.


Semoga Bermanfaat

Amanah Muslim Sukses Bisnis Perlengkapan Haji



BANDUNG, Inspirasi Bangsa (22/2)— Setelah melanglangbuana karena tuntutan profesi sebagai konsultan tenaga ahli pesawat terbang di berbagai Negara, membuat Joko merasa pantas untuk segera membuka usaha yang bisa menghidupi keluarganya.

Jika ditinjau dari penghasilan yang didapatnya, tentu uang yang didapatnya relatif besar, namun Joko berpikir sebaiknya ada ketenangan pula di dalam menjalankan usahanya, dan yang terpenting adalah bagaimana ia memudahkan orang yang akan menjalankan ibadah haji atau umroh.

Atas pijakan itu pulalah, ia berani membuka usaha oleh-oleh serta kebutuhan haji dan murah dengan menggunakan pola One Stop Shopping di Pasar Baru Trade Center (BTC) Kota Bandung dengan nama Amanah Muslim dengan omzet 1 Milyar saat Lebaran yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Seiring perkembangan yang terjadi maka ia pun berani menyediakan kitab, kaset murrotal, obat herbal, buku-buku Islam dan lain sebagainya. Ia memulai usaha dengan modal 250 juta dan kini assetnya mungkin sudah mencapai 2,5 miliar.

“Terus terang saya tidak mengambil untung lebih dari 15 %. Namun karena Allah berkehendak lain maka usaha saya terus berkembang dan kini alhamdulillah memberikan masukan yang cukup berarti bagi saya, keluarga dan para karyawan yang ada,” ungkapnya saat ditemui di lantai IV Pasar Baru Trade Centre belum lama ini.

Di dalam menjalankan roda usahanya, Joko tetap mengutamakan kepercayaan, dan itulah yang menjadi keutamaannya saat menjalankan bisnisnya saat ini. Juga yang tak kalah penting ia tetap menjalin silaturahmi dengan para pelanggan.
Tidak sekedar urusan jual beli, untuk sharing atau diskusi tampaknya Joko tak pelit memberikan waktunya. Bahkan semakin hari semakin banyak pelanggan baru yang berbelanja ke tempatnya.
Joko pun tetapi berharap bisnis yang dijalaninya ini secara duniawi tetap menghasilkan untung yang berkah. namun, ia tetap tak melupakan akhirat. Di sini, Joko tidak melulu mengutamakan materi semata dalam bisnisnya, tapi ia berusaha bagaimana dirinya bisa memberikan manfaat bagi umat. terlebih yang diupayakan adalah apa yang dilakukannya bisa memberikan kontribusi bagi Islam.

“Jangan sekedar urusan materi saja tetapi usaha yang kita lakukan pun mestinya bisa memberikan hal yang berari bagi agama yang kita anut,” tutur suami dari Ir Prawestri ini.

Yang tak kalah penting kata Joko, tetap saja sebagai pengusaha dirinya selalu menekankan prinsip berprasangka baik kepada Allah dalam bisnis atau bidang apapun. Jika tidak maka yang terbalik itulah yang akan diterima.

Maka bagi siapapun yang ingin berbisnis, selain harus yakin denga potensi yang dimiliki, juga sikap positif thinking yang dikedepankan. Inilah modal berharga bagi pengusaha. “Sifat positif thinking ini akan mengokohkan usaha yang dijalankan karena selalu ada dalam kepositifan, maka insya Allah hasilnya akan positif juga,” pungkasnya.(Def)

Sumber:  inspirasibangsa.com/joko-sasongko-sukses-bisnis-perlengkapan-haji/

Amanah Muslim Edisi Majalah Pengusaha Muslim


Menjelang Bulan Ramadhan, Pasar Baru Trade Center (BTC) yang terletak di jalan Oto Iskandardinata Bandung Jawabarat mulai kebanjiran pengunjung. Kalau pada bulan biasanya jumlah para pengunjung paling banyak 800 ribu orang maka memasuki bulan ramadhan jumlah pengunjung bisa mencapai 1 juta orang setiap harinya.

Menurut Humas Pasar Baru Trade Center, Hein Adolf W alasan utama membludaknya orang berbelanja di Pasar Baru lebih dikarenakan lengkapnya aneka produk busana yang ada apalagi harganya relatif murah. Apalagi kota Bandung ini dipandang oleh banyak orang sebagai kiblat segala busana, khususnya busana muslim.

Untuk menyambut ramainya pembeli menjelang ramadhan sejumlah pemilik kios di pasar baru terlihat merapihkan produk dan merancang strategi pemasarannya. Namun beda halnya dengan Ir H. Djoko Sasongko, pemilik Amanah Muslim saat ditemui di kios pusatnya di lantai 4 Blok A2-80. Pengusaha yang menyediakan aneka perlengkapan muslim dan haji ini justru terlihat santai.

Bagi lulusan teknik Fisika ITB ini, melayani pembeli pada hari-hari menjelang dan saat ramadhan sama saja dengan hari-hari biasa, yaitu dengan penuh hormat dan tanggap. Diakui Djoko, pada saat ia mensurvei suasana Pasar Baru sebelum membuka kios pada akhir tahun 2003, ada sebuah kebiasaan di Pasar Baru.

“Mereka bilang dagang di Pasar Baru yang benernya cuma empat bulan saja yaitu bulan-bulan di sekitar ramadhan. Dagang pada empat bulan itu bisa menutup operasional setahun dan sisanya pedagang pada santai. Nah ini yang saya tidak mau. Tidak bisa seperti itu, toh setiap hari orang datang ke sini.” tutur Ir H. Djoko Sasongko.

Tapi ia tidak memungkiri pada bulan-bulan menjelang ramadhan terjadi kenaikan transaksi jual beli di kiosnya. Pada empat bulan tersebut setiap harinya Amanah Muslim meraup omset mulai dari Rp. 20 juta selanjutnya 30 juta dan puncaknya di bulan ramadhan bisa melebihi Rp. 35 juta.

Omset yang kalau ditotal sudah menyentuh angka Rp. 1 milyar di bulan ramadhan tersebut diakuinya didapat dari 7 kios miliknya. Kios-kios tersebut terdiri dari 3 kios perlengkapan haji dan busana muslimah, 1 kios perlengkapan busana muslimah anak, 1 kios perlengkapan busana muslim dan 2 kios toko buku muslim.

Ketujuh kios tersebut letaknya berdekatan. Hal ini sengaja dibuat oleh ayah dua orang putra ini demi mengusung konsep bisnis One Stop Shopping. Dengan konsep tersebut, ia berharap para pengunjung tidak berhenti belanja hanya pada satu produk saja, tapi ada banyak produk lainnya yang bisa menjadi pilihan. Ternyata strategi yang diterapkannya tersebut terbukti berhasil. Dari satu orang yang belanja bisa menghabiskan satu sampai dua juta rupiah.

Mantan Ahli Pesawat Terbang
Ada hal yang menarik dalam diri Ir H. Djoko Sasongko. Ia mulanya bukanlah seorang pebisnis melainkan seorang consultan engineering (tenaga ahli) pesawat terbang. Ia bergabung dengan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Bandung (sekarang PT DI) pada tahun 1989. Di perusahaan ini ia menjabat sebagai Kepala Departement Environmental control and protection system.

Selain di IPTN ia juga pernah hijrah beserta keluarganya ke Brazil untuk bekerja sebagai tenaga ahli penerbangan. Selain di Brazil beberapa negara lainnya turut disinggahi oleh consultan engineering ini seperti Amerika, Perancis, Belgia dan Turki.

“Kita jauh-jauh ke luar negeri digaji besar hampir lebih dari 7 kali lipat gaji di Indonesia, tapi untuk ibadah kurang nyaman” kata Ir H. Djoko Sasongko.

Selama di luar negeri, ia mengaku sulit sekali melaksanakan shalat fardhu berjamaah. Perusahaan tempatnya bekerja pun tidak menyediakan fasilitas untuk beribadah. Apalagi jika hendak shalat jumat, ia harus berangkat ke kota lain yang memakan waktu hingga dua jam.

“Akhirnya saya berpikiran andainya di Indonesia punya usaha dengan penghasilan kotor Rp. 10 juta saja perbulan, kita tidak usah ke luar negeri,” tutur Ir H. Djoko Sasongko.

Karena itu ketika kontrak di luar negeri selesai akhir tahun 2003 ia mulai melirik Pasar Baru. Saat itu ia membaca iklan di media cetak bahwa pasar baru masih menawarkan kios-kios di lantai empat. Maklum saat itu lantai 4 masih kosong melompong.

Selanjutnya, pada November 2003 Ir Hj. Prawestri, istrinya yang bekerja sebagai Kepala bidang system engineering di IPTN mengundurkan diri dan terjun menekuni bisnis busana muslim dan perlengkapan haji di kios Pasar Baru lantai empat yang sudah dibeli Djoko. Selagi istrinya mengurus bisnis, ia kembali meneruskan pekerjaanya di IPTN karena masih tercatat sebagai karyawan.

Pada tahun 2005, Djoko mengundurkan diri dan kembali bekerja di luar negeri, tepatnya di Belgia. Di sana selama 6 bulan ia mampu menabung Rp. 100 juta perbulan. Tabungan inilah yang ia gunakan untuk menyokong bisnisnya.

Setelah kontrak di Belgia habis barulah ia terjun bisnis bersama istrinya di pasar baru dengan mengusung label Amanah Muslim yang menyediakan perlengkapan busana muslim dan haji.

Ide bisnis perlengkapan busana muslim dan haji sendiri lahir saat ia menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah tahun 1997. Saat itu ia terpesona dengan penghargaan yang diberikan kepada Raja Fahd sebagai pelayan dua tanah suci.

Dorongan lain muncul ketika ia melaksanakan wukuf, jumrah aqabah serta thawaf ifadah, ketika ia harus berbagi minuman dengan jamaah lainnya di tengah terik matahari yang menyengat. “Nah dari situlah ide saya membuka busana muslim dengan harga murah untuk membantu muslim,” tambahnya.

Sukses dengan Konsep One Stop Shopping
Mulanya pada bulan November 2003, Amanah Muslim memiliki satu kios yang dibeli dengan harga Rp. 200 juta. Sedangkan untuk pengadaan barang dan fasilitas pertokoan saat itu menghabiskan Rp. 35 juta. Dengan kios ukuran 6,25 m2 dan jumlah barang yang masih sedikit Amanah Muslim sudah memberanikan diri menyebut dirinya sebagai One stop Shopping.

Konsep ini didasari oleh kecenderungan konsumen untuk menghemat waktu saat berbelanja. Banyak pembeli yang lebih memilih gerai yang menawarkan beragam produk sehingga menghasilakn efesiensi waktu dibandingkan berbelanja di gerai yang hanya menjual satu jenis produk.

“Dalam binis itu harus punya mimpi besar. Dan mimpi besar saya waktu itu ingin memiliki mall dengan konsep one stop shopping. Maka saya gencar beriklan ke media cetak, saking terobsesinya kalimat one stop shopping lebih besar ukuran hurufnya ketimbang nama Amanah Muslim,” tutur ketua Haji dan umrah pasar baru ini.

Dari satu kios tersebut terdapat beragam jenis produk yang masih tercampur seperti busana muslim, busana muslimah serta perlengkapan haji. Meski demikian Ir H. Djoko Sasongko cukup cerdik dalam mensiasati konsep One stop shopping. Ia hanya cukup mengubah rak-rak produk bagian tampilan depan dengan produk-produk yang sesuai dengan datangnya musim.

Jika menjelang ramadhan, semua rak yang ada di depan menyuguhkan produk yang berkaitan dengan ramadhan. Begitu ramadhan berakhir ia kembali merombak rak-rak tampilan depan dengan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan ibadah haji karena memasuki musim haji. Usai musim haji tampilan kembali dirubah sesuai dengan kebutuhan musim umrah dan seterusnya.

Tujuh bulan kemudian, tepatnya Mei 2004 Amanah Muslim menambah kiosnya dengan menjual beragam alquran, buku-buku muslim, VCD serta produk lainnya yang biasa ditemui di sebuah toko buku muslim.

Tercatat hampir setiap tahun Amanah muslim terus melebarkan sayapnya dengan memisahkan beberapa produknya ke kios khusus. Gencarnya iklan di media cetak dan di dunia maya pun turut mendongkrak popularitas Amanah Muslim sebagai One Stop Shopping-nya Pasar Baru. Sehingga pada tahun kedua Amanah Muslim sudah mengantongi laba bersih 10 juta perbulannya persis seperti obsesi pemiliknya sewaktu di luar negeri.

Muhammad Yasin
Majalah Pengusaha Muslim
Vol 1/ Edisi September 2010
Laporan Utama, Halaman 10-11

Wednesday, August 28, 2013

Profil Amanah Muslim di Majalah Sabili




MENGGAPAI SURGA MELALUI BISNIS ISLAMI
Oleh Deffy Ruspiyandy

Berbisnis tidak sekedar mengejar keuntungan duniawi, itulah yang sering diucapkan Djoko Prijo Sasongko, pemilik toko Amanah Muslim. Keuntungan duniawi tetaplah pemting, karena berbisnis Islami ujungnya adalah hal tersebut dan kepercayaan modal berharga untuk kemajuan bisnis yang dijalankan.

Awalnya sekitar tahun 1997 saat ia menjalankan ibadah haji dan berusia 35 tahun Kala itu usai melakukan wukuf dilanjutkan jumroh aqabah dan thowaf ifadah. Tentu saja Joko tidak tidur sehari semalam. Mau tak mau harus kembali ke Mina karena dirinya diamani sebagai ketua rombongan waktu 35 apalagis aya kepala rombongan. Rombongan kala itu menggunakan kendaraan, namuns ang supir justeru menurunkan semuanya kira-kira 200 meter dari tenda penginapaandi tengah terik matahari yang menyengat tubuh. Dalam kondisi jalan sempoyongan, pokoknya semua lelah, ternyata di saku ada 2 real lalu dibelikanlah minuman. “ Saat saya sedang asyik minum, mungkin satu dua teguk, anggota saya minta. Kemudian saya berikan, saya katakana kalau ada sisa, lakukan estafet kepada yang lain. Saya membayangkan belum pernah minum sesegar itu lalu diputus. Semoga itu saya lakukan dengan ikhlas. Mungkin, piker saya air sorga seperti itu. Lalu muncul keinginan dalam hati, akan terasa bahagiaan aat berbagi. Saya berdoa, Ya Allah pertemukanlah saya dengan orang-orang yang membutuhkan dan berikanlah saya kemampuan untuk bisa membantu mereka,” terangnya kepada Sabili yang menemuinya di Pasar Baru Kota Bandung lantai IVA2 No. 78G baru-baru ini.

Bisnisnya dilatarbelakangi pula saat ia bekerja di luar negeri. diantaranya Brazil, AS, Perancis, Belgia dan Turki terutama waktu 2 tahun di Brazil. Kalau secara materi, menurutnya sangat melimpah bila dibandingkan dengan di PT Dirgantara Inodnesia. Di sana ia bekarja sebagai Konsultan Ahli. tetapi di sana bila ingin beribadah selalu terkendala karena tak ada Mesjid.hingga untuk Shalat Jumat saja harus bolak-balik menghabiskan waktu 2 jam termasuk untuk Shalat wajib pun begitu. Tepatnya ia bekerja Sao Jose Dos Campos dan kalau Shalat ke kota Taobate. Lalu Joko curhat, gaji besar tapi untuk Shalat Jumat cukup jauh. “Terus terang, ketidaknyamanan terjadi saat itu, . isteri pakai kerudung saja dilihati orang dan selalu dicurigai. Muncul statemen saya kala itu, kalau saya punya penghasilan bersih 10 juta perbulan dari usaha, maka saya akan buka usaha dan itu terkabul tahun 2001.” kenangnya. 

Baginya, membuka usaha itu tidak sekedar untuk mencari keuntungan dunia semata, menjalankan usaha itu harus diarahkan guna membantu orang-orang yang menbutuhkan termasuk untuk kebutuhan haji. Ia pun terismpirasi pula dengan Raja Fahd yang dijuluki Pelayan Dua Tanah Haram. Beliaulah yang mengayomi dan membangun Mesjid Nabawai dan Mesjidil Haram. “Itulah yang menginspirasi saya sehingga memilih perlengkapan muslim untuk bisnis yang saya pilih ini.: ujarnya.

Memulai usaha dengan beli kios di Pasar baru luas 6, 25 meter seharga 200 juta. Dirinya menggunakan penbdekatan yang berbeda saat itu yaitu One Stop Shopping. Semua kebutuhan ibadah muslim disediakan Joko bersyukur usahanya berkembang.Alhamdulilah walau dalam kondisi yang terbatas. Menurutnya, pelanggan banyak terkesan dengan pendekatan yang dilakukannya hingga ada yang menyarankan mengapa tidak jual al-Quran. Ia mengikuti saran itu. Awalnya kontrak untuk al-Quran saja lalu ditambahi buku-buku Islam, kaset murrotal dan nasyid. Sekarang justeru menjadi toko buku tersendiri. Katanya, kios yang dimilikis ekarang jumlahnya 6 dan 1 ngontrak. Dia berani mengklaim kalau tokonya adalh satu-satunya di Pasar Baru Kota Bandung yang mengunakan konsep OSS tadi. Joko pun belajar mencoba menerapkan bisnis Islami, sebagaimana Nabi mengambil keuntungan dari bisnisnya. Ia belajard ari referensin yang ada kemudian ia menetapkan 15 % saja. “Saya sengaja mengerem untuk dapat berbagi dengan orang yang membutuhkan. Harga yang ditawarkan relatif murah, dan itu memudahkan orang yang hendak membeli. Saya yakin Allah menilai kebaikan itu. Insya Allah, Allah akan mengajak berlari walaupun saya mengerem. Allah memberikan rezeki berlipat ganda bagi saya dan bisnis saya terus berkembang. Secara profit memang mengerem tetapi secara usaha, saya mengalami kemajuan. Kalau Allah berkehendak tentu tak bisa dibendung. Saya selalu diberi kemudahan dalam usaha.” ungkap Pria yang lahir di Blitar 17 Mei 1960.

Dalam soal pelayanan tidak sekedar menekankan jual beli semata, tetapi ia menekankan hubungan silaturahmi. Itu tercermin dari banyak pelanggan yang tidak sekedar membeli barang yang dijualnya, namun mereka ingin pula berdiskusi atau ngobrol dengannya. Dia dan pelanggannya sharing bahkan saling menginspirasi. Nama Amanah Muslim sendiri diambil dari Nabi Muhammad yang dapat gelar al-Amin, Kebetulan saat itu pun dirinya membaca dari iklan di media lokal ada toko besar untuk kebutuhan ibadah muslim namanya Amanah. Joko lalu belajar ke sana untuk maka untuk membedakannya ditambahlah kta Muslim. Juga ia pun mengambil personal branding yang ada pada diri Rasulullah. Bisanis itu pilarnya harus ada trust seperti pribadi Rasulullah yang dipercaya masyarakat luas. Waktu Ke Syiria saja ia dimodali oleh Siti Khadijah sangat besar karena dapat dipercaya mengemban amanah.

Modal awal 250 juta dan kini mungkin asset yang dimilikinya sekitar 2,5 miliar. Kini ia memiliki karyawan sekitar 15 orang. Dia menggunakan prinsip, mereka itu adalah orang-orang terbaik yang dikirim Allah dan harus diperlakukan dengan cara yang baik pula. Pendekatan kepada mereka yang dilakukannya adalah asas Self Continous Improvement yang berarti perbaikan diri terus menerus dengan poinnya iman, takwa, ilmu dan materi. Keempat hal ini menurutnya harus meningkat. Jadi setiap hari harus terus meningkat sesuai tuntunan surat al-Ashri. Juga kepada karyawannya menegaskan jangan sekali-kali mengambil barang yang bukan haknya tetapi perlu juga mereka menabung dalam bentuk apapun, contohnya bisa membantu dengan tenaga atau membantu dengan memberikan ilmu kepada orang yang belum paham. “Allah selalu melihat apa yang kita perbuat. Setiap perbuatan apapun Allah tentu akan membalasnya,” ujar suami dari Hj Prawestri.

Katanya, bisnis yang dijalaninya biasanya ramai saat Idul Fitri dan iIul Adha saja. Tetapi ia ingin mengembangkan bisnisnya ramai sepanjang tahun itu . Ias mengatakan bila backgroiundnya karyawan tentu memiliki kepastian gaji dengan pekerjaan yang dilakukannya, sedangkan pengusaha tentu akan mendapatkan hasil sesuai ikhtiar dan kinerja yang dilakukannya. Ada pedagang lama di Pasar Baru yang mengatakan, usaha di sini ramainya 3-5 bulan dan itu bisa menutupi operasional selama satu tahun. Namun ia tak sepakat dengan hal itu, pokoknya selama setahun harus bisa dimanfaatkan termasuk memanfaatkan kondisi mereka yang umroh untuk bisa meraih keuntungan tadi.

Dia mengakui usaha yang kini telah dijalankannya dari hari ke hari terus berkembang. Kebanyakan pedagang mengejar omzet, kalau dirinya justeru berusaha mencari pelanggan sebanyak-banyaknya dengan pengutamaan silaturahmi di dalamnya. Itu terasa sekitar tahun 2003-2005, setelah pelanngannya banyak maka sampai sekarang tidak pernah sepi. Dengan kepercayaan dari pelanggannya, ia bisa berpromosi secara gratis sehingga banyak mengundang pelanggan baru lainnya. Bisnisnya sendiri diakuinya, tidak sekedar mencari keuntungan duniawi tetapi mencari keuntungan akhirat juga dan ia berusaha memudahkan mereka yang ingin beribadah. Ibarat membangun mesjid dengan infaq atau sodaqoh yang bisa mengalirkan pahala walaupun kita mati. Kalau Joko mengangap dalam bisnisnya ini adalah kesempatan untuk menolong agama Allah. “Saya cuma numpang kepada-Nya. Saya bersuaha untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi umat dan juga agama. Semoga ini menjadi jalan saya mencapai surga. Semoga rezeki yang didapat bisa digunakan untuk amal kebaikan,” kata ayah dari Faris Fadlurahman dan Nada Nabila Azizah.
Sebagai seorang pengusaha, ia telah memikirkan jika suatu hari kelak dirinya wafat, dia berharap keturunannya bsia meneruskan. Jika tidak ia menyiapkan karyawannya untuk bisa melanjutkan usahanya, sehingga bisnis yang dijalankannya tidak mati. Bisnis yang dijalaninya ini pun harus terus memberi manfaat. sehingga ia berkeinginan untuk bisa menjalin silaturahmi yang inten dengan para pengusaha muslim yang ada agar bisnis yang dijalankannya mendapat barokah dari Allah SWT dan yang terpenting dari usahanya adalah mampu mengentaskan kemiskinan dan mengatasi segala persoalan umat yang diterjadi.

Pada bagian akhir, Joko menekankan kepada siapapun untuk selalu berpikir positif terhadap segala sesuatu terlebih kepada urusan bisnis. Karena Allah biasanya sesuai dengan sangkaan hamban-Nya. Maka jika kita selalu berhunsnudzon kepada Allah maka tentunya Allah pun akan memberikan kebaikan dan nilai positif sesuai sangkaan kita.”Teruslah kita menjaga nilai positif itu agar selamanya kita berada dalam kebaikan, karena dengan segala kebaikan akan membuat diri kita selalu mampu menjalankan silaturahmi secara baik dan dari situ akan semakind ekat pula kita kepada Allah,” pungkasnya menjelang Dzuhur dalams ebuah kesempatan di akhir pekan.***

DEFFY RUSPIYANDY
JL. CIROYOM III NO. 286A/26 RT 06/08
B A N D U N G 40182

Profil Amanah Muslim








Pasar Baru Trade Center Lantai 4 Blok A-2 No. 78G
Jl.Otto Iskandardinata No.70
Andir, Bandung
INDONESIA 40181


Bismillahirrohmanirrohiem


Barangsiapa yang memberi pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada Nya lah kamu dikembalikan (QS. 2:245)

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS. 47:7)


BISNIS PLAN "AMANAH MUSLIM"

Nama Bisnis: “AMANAH MUSLIM”
Jenis Bisnis: Aneka Perlengkapan Muslim & Haji
Contact: H. Djoko Sasongko, Ir. dan Hj. Prawestri, Ir.
Bandung:
Pasar Baru Lt. 4, Blok A2-80
Jl. Oto Iskandardinata 70, Bandung
Phone: 022-4245939, Cell Phone: 0815 6172083

Surabaya:
Jl. Tambaksari No. 29
Phone: 031-5034224, Cell Phone: 0815 7052308

E-mail: amanahmuslim@yahoo.com

Investor: H. Djoko Sasongko, Ir. dan Hj. Prawestri, Ir.


1. Executive Summary
Alhamdulillah bisnis “Aneka Perlengkapan Muslim & Haji” yang telah dimulai dibuka 1 Nopember 2003 relative lancar. Untuk melengkapi jenis komoditi yang dijual dan sekaligus memenuhi permintaan customer, maka sejak 1 mei 2004 lalu telah di buka toko tambahan, menjual buku-buku,VCD, cassete, dan berbagai keperluan muslim lainnya.

2. Bisnis Profile
Toko “AMANAH MUSLIM” adalah Trade Distributor aneka perlengkapan muslim & haji berbasis di Pasar Baru –Bandung.

3. Visi dan Misi
1 Menjadi “one stop shopping” untuk aneka kebutuhan kaum muslim.
2 Menjual dengan harga relatif murah untuk meringankan dan melancarkan ibadah kaum muslim.
3 Mengutamakan kepuasan costomer sebagai strategy.
4 Mendedikasikan kegiatan bisnis dalam bentuk sharing profit demi ridho Allah SWT.

4. Analisa Pasar
4.1 Target Segmen
 Kaum muslimin pengunjung dan pedagang Pasar Baru, dewasa dan anak-anak.
 Importir perlengkapan muslim yang berkunjung ke Pasar Baru - Bandung


4.2 Pangsa Pasar
• Mayoritas orang-orang yang berkumjumg ke Pasar Baru adalah kaum muslim
• Pangsa penjualan buku-buku, kaset, dan VCD islami insya Alloh cukup besar mengingat kebanyakan pelanggan “Amanah Muslim” kaum intelektual.


4.3 Kompetitor
• Untuk buku, kaset, dan VCD hampir tidak ada
• Untuk busana muslim relative banyak

4.4 Unique Selling Point
• Murah dan bagus kualitasnya, juga selalu up to date
• One stop shopping untuk keperluan muslim
• Berniaga sambil beribadah demi ridho Alloh SWT

5. Strategy dan Plan Kerja
5.1 Supplier
• Meningkatkan reliabilitas dan kualitas dengan harga jual yang competitive

5.2 Marketing
• Memperluas jaringan pemasaran dengan kartu nama, brosur, kalender, jadual sholat, juga web site.