Sunday, February 23, 2014

Kisah Tukang Becak Bai Fang Lie, Hatinya Sungguh Sangat Islami


BAI FANG LI adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

ejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata, “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..



Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 ( setara 470 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.



Berikut Pesan Singkat dari Kisah Diatas :

Harta kekayaan yang manusia miliki, disana tersimpan hak fakir miskin dan anak yatim, untuk itu harta tersebut harus diserahkan kepada golongan yang berhak menerimanya agar mendapat berkah.

Zakat merupakan salah satu kewajiban utama dalam ajaran agama islam, perintahnya selalu digandengkan dengan perintah sholat. jika manusia melupakan maka Allah akan menjatuhkan siksa kepadanya.

apabila perhatian bisa diberikan si kaya kepada si miskin dalam bentuk zakat, infaq dan shodagah, maka nasib si miskin akan berubah. dan untuk itu Allah akan menurunkan rahmatnya kepada manusia, sebagaimana dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 261, dinyatakan :
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha luas (karunianya) lagi maha mengetahui.

Hilangnya rasa aman, tenteram dan damai dalam kehidupan masyarakat merupakan akibat begitu besarnya kesenjangan sosial ekonomi, sementara pemilik harta seolah melupakan kewajibannya. mereka hidup tanpa memperhatikan orang-orang disekelilingnya. mereka terbuai dengan kemewahan duniawi. harta yang melimpah membuat mereka jauh dari perintah agama. bila sudah demikian maka umat manusia harus bersiap diri untuk menerima azab dan sengsara akibat kekikiran dan keserakahan.

Tuesday, February 18, 2014

Informasi Mengenai Peristiwa Masa Depan dalam Al Qur'an






Sisi keajaiban lain dari Al Qur'an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala:

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al Qur'an, 48:27)

Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah. Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah.

Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur'an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas. Kekalahan Bizantium merupakan salah satu berita tentang peristiwa masa depan, yang juga disertai informasi lain yang tak mungkin dapat diketahui oleh masyarakat di zaman itu. Yang paling menarik tentang peristiwa bersejarah ini, yang akan diulas lebih dalam dalam halaman-halaman berikutnya, adalah bahwa pasukan Romawi dikalahkan di wilayah terendah di muka bumi. Ini menarik sebab "titik terendah" disebut secara khusus dalam ayat yang memuat kisah ini. Dengan teknologi yang ada pada masa itu, sungguh mustahil untuk dapat melakukan pengukuran serta penentuan titik terendah pada permukaan bumi. Ini adalah berita dari Allah yang diturunkan untuk umat manusia, Dialah Yang Maha Mengetahui.

Kecerdasan Emosi dalam Pekerjaan



Alkisah dua orang pegawai, sebut saja Badrun dan Bahrun sama-sama bergabung sebagai pegawai baru di sebuah kantor. Tingkat kecerdasan yang mereka miliki (IQ) relatif sama.

Untuk meningkatkan kompetensi karyawan, kantor tempat mereka bekerja memberi kepada karyawan untuk mengambil kuliah sore. Dalam hal ini, Badrun tampaknya lebih aktif, sedangkan Bahrun-karena kesibukannya-tidak memiliki kesempatan serupa. Akan tetapi, pengetahuan Badrun yang semakin banyak ternyata tidak sebanding dengan caranya membawa diri di tengah lingkungan kerja.

Kerapkali dia sok pintar dan memotong pembicaraan orang tanpa mengenali dulu isi pembicaraan tsb. Tidak hanya itu, banyak keluhan yang muncul dari teman-temannya terhadap sikap Badrun. Hanya karena masalah sepele dia sering menunjukkan raut muka tidak bersahabat, membanting telepon ketika idenya tidak diterima, dsb.

Alhasil, Badrun semakin tidak disenangi oleh pelanggan maupun rekan-rekan pegawai. Sementara si Bahrun, yang notabene tidak memperoleh tambahan pengetahuan untuk mengembangkan diri ternyata memiliki tingkah laku yang berbeda dalam membina relasi. Dia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Baginya, teman-teman kerja dan atasan adalah orang yang harus didengarkan serta dilayani sungguh-sungguh. Bahkan, di hadapan rekan-rekan kerja dan pimpinannya dia memosisikan diri sebagai pelayan.

Bahrun tahu bagaimana membagi waktu yang proporsional antara kepentingan pribadi dan kepentingan perusahaan. Ketika dia memegang dana anggaran belanja di kantor, dia mampu membuat pos tersendiri agar tidak berbaur dengan uang pribadinya. Di tengah-tengah unit kerjanya dia adalah smart people – pegawai yang disenangi. Alhasil, dalam waktu yang tidak terlalu lama Bahrun telah dipromosikan menjadi salah satu pejabat dilingkungan perusahaannya, mendahului rekan seangkatannya, Badrun.

Ilustrasi di atas kiranya dapat menunjukkan bahwa Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence=EQ) Bahrun lebih menonjol dibandingkan Badrun. Dan tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan mengelola emosi jelas merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam membina hubungan antar sesama manusia karena penilaian sikap dan perilaku kita bukan dinilai oleh diri sendiri tetapi kita dinilai oleh orang lain.

Saturday, January 25, 2014

Berbisnis untuk Menolong Agama Allah


Ia sama sekali tak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman di bidang bisnis. Namun, ia mantap meninggalkan pekerjaannya yang cukup mapan di perusahaan penerbangan demi mendapatkan kenyamanan beribadah.

Ir. Djoko Sasongko, alumnus teknik fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sudah 16 tahun terjun di bidang penerbangan. Pekerjaan mengharuskannya sering menetap di luar negeri. Tak dinafikan, limpahan materi ia terima. Dalam sebulan, misalnya, ia bisa menabung 100 juta rupiah. Namun, jiwanya tak tenang. Bekerja di negara di mana Muslim menjadi minoritas, membuatnya tak leluasa untuk beribadah.

Selain soal ibadah, sistem kontrak yang diterapkan perusahaan pun menimbulkan ketidakpastian posisi, karena sewaktu-waktu kontraknya bisa saja diputus. “Kalau saya punya penghasilan 10 juta rupiah per bulan, saya akan tinggalkan pekerjaan ini,” pikirnya, suatu ketika.

November 2003, Djoko dan istrinya, Ir. Hj. Prawestri mantap membangun bisnis dengan membuka toko perlengkapan Muslim bernama Amanah Muslim di Pasar Baru Trade Center, Bandung, Jawa Barat.

Meski hanya menempati kios berukuran 6,25 meter persegi dan menjual sedikit barang, ia tak ragu mendeklarasikan impiannya untuk membangun Amanah Muslim menjadi one stop shopping berbagai perlengkapan ibadah kaum Muslim dan mempromosikannya di media massa. Pada awal membangun bisnis, Prawestri-lah yang focus mengelola toko. Sedangkan Djoko masih bekerja di PT Dirgantara Indonesia dan sesekali bekerja di luar negeri.

Mencari Akhirat

Bukan tanpa alasan jika akhirnya Djoko membuka toko perlengkapan Muslim –terinspirasi oleh Raja Abdullah bin Abdul Aziz dari Arab Saudi yang mendapat gelar Khadimul Haramain (pelayan dua Tanah Suci, yakni Makkah dan Madinah)− maka ia pun ingin menjadi pelayan bagi saudara sesama Muslim yang ingin beribadah.

Oleh karena itu, ia menjual barang dengan harga relative murah sehingga terjangkau bagi konsumen. Dengan begitu, ia berharap bisa turut membantu kaum Muslim yang ingin beribadah. Melalui bisnis, ia tak hanya mencari dunia, tapi juga akhirat.

“Subhanallah, dengan membatasi profit yang lebih tipis, kemajuannya seperti berlari. Allah memberi banyak kemudahan yang kalau dengan hitunghitungan logika tidak nyambung. Bayangkan, yang semula targetnya hanya 10 juta, sekarang insya’ Allah apa yang saya capai (dulu) di luar negeri pun sudah mulai terjangkau. Semua ini tidak akan bisa, kalau bukan karena (izin) Allah,” ujar ayah dua anak ini.

Dari lima toko −yang menjual perlengkapan haji dan umrah, pakaian anak, busana Muslim dan toko buku− kini Djoko meraih omset sekitar 600 juta rupiah per bulan. Jatuh bangun dalam bisnis yang diperkirakan terjadi selama tiga tahun pertama, nyatanya hanya dalam waktu 1,5 tahun penghasilan bisnis Djoko sudah melampaui target 10 juta rupiah per bulan.

Untuk Agama Allah

Ketika membangun bisnis dengan bendera Amanah Muslim, Djoko menetapkan visi yang sangat penting, yakni ia ingin mendedikasikan penghasilan bisnisnya untuk agama Allah.
 

Ia percaya pada janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Baqarah [2] ayat 245: “Barangsiapa yang member pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan Melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizqi) dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan.”

Pun, yang termaktub pada surah Muhammad [47] ayat 7, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Pada akhirnya, visi itu terefleksi dari berbagai upaya yang dilakukan Djoko dalam berbisnis. Selain menawarkan harga produk yang relatif murah, ia pun memenuhi janjinya untuk menolong agama Allah dengan selalu menyisihkan penghasilannya untuk bersedekah. Pun, memberangkatkan beberapa relasi untuk umrah. Tahun depan, Djoko berharap bias mengumrahkan karyawannya.

Bagi Djoko, membangun bisnis ia ibaratkan seperti membangun masjid. Ia harus membuatnya semegah mungkin dan bermanfaat bagi orang banyak. Berbeda halnya dengan rumah, ia memilih hidup sederhana. Karena prinsip Djoko, ia hanya menumpang hidup di dunia ini. Jadi, ia tak ingin menjalani gaya hidup yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah. “Karena itulah, hasil utama bisnis ini kami pakai untuk menolong agama Allah,” ujar pria yang lahir dari keluarga berada ini.




 One Stop Shopping
 
Belasan tahun bekerja di industri penerbangan yang kompetitif dan inovatif, membuat Djoko datang ke dunia bisnis dengan persiapan matang. Ia membuat perencanaan bisnis dengan target dan langkah-langkah yang jelas agar bisa mewujudkan impiannya menjadikan Amanah Muslim sebagai one stop shopping center untuk keperluan ibadah kaum Muslim.

Kepada pengembang (developer), Djoko menggagas ide untuk menjadikan lantai empat di Pasar Baru berkonsep sentra perlengkapan Muslim. Salah satu cara untuk merealisasikan ide itu Djoko menyarankan diselenggarakannya pameran haji dan umrah di gedung tersebut dengan menggandeng beberapa pengusaha biro perjalanan haji dan umrah. Maka, blok yang semula menjadi area ‘mati’, perlahan mulai ‘hidup’.

Strategi Bisnis

Biasa bekerja sebagai karyawan dengan nilai penghasilan yang pasti setiap bulannya, membuat Djoko kaget menghadapi ketidakpastian pendapatan dalam bisnis. Oleh karena itu, ia coba membuat terobosan dengan mulai merambah bisnis perlengkapan haji dan umrah. Meski haji memang terbilang musiman, namun umrah berlaku sepanjang tahun.

Pertumbuhan ekonomi masyarakat menengah atas yang cukup pesat juga membuat umrah menjadi hal yang lazim dilakukan. “Kalau dulu konsumen yang belanja senilai satu juta rupiah ke atas itu jarang, sekarang sudah luar biasa banyak.” Ditambah lagi dengan antrean panjang ibadah haji membuat mereka yang tak sabar ingin ke Tanah Suci memutuskan untuk umrah terlebih dulu.

Agar memperoleh pendapatan yang tetap, Djoko juga menggagas ide menjadi loper koran. Djoko melihat tiga ribu pedagang yang ada di Pasar Baru sangat potensial untuk menjadi pelanggan surat kabar. “Kalau sepuluh persen saja dari mereka berlangganan maka ada pemasukan yang tetap. Sekarang bisnis loper Koran dipegang oleh karyawan dan hasilnya juga untuk mereka.”


 Plan B

Meski terlihat bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan dan profesi sebelumnya, Djoko mengakui dengan latar belakang berbeda itu ia justru mendapat banyak keuntungan. Pendidikan misalnya, berkontribusi memperluas wawasannya sehingga ia bisa melihat permasalahan sebagai potensi dan lebih siap menghadapi perkembangan ke depan.

Dari pekerjaannya di industry pesawat terbang selama belasan tahun, ia belajar menjadi pengambil risiko (risk taker) yang berani dan penuh optimisme. Tentu saja sikap optimistis yang juga dibarengi dengan ikhtiar dan perencanaan yang baik. Dari ilmu pesawat terbang, ia juga belajar tentang mendesain sistem dengan tingkat kegagalan yang minimal. “Jika ada sistem di pesawat terbang yang tak berfungsi maka pesawat akan celaka/jatuh. Dengan demikian, kita harus merancang sistem yang hamper tidak pernah gagal. Karena, kalau yang mutlak tak pernah gagal kan hanya Allah,” ujar pria kelahiran Blitar, 17 Mei 1960.

Akan tetapi, secerdas dan sehebat apapun manusia merancang sebuah rencana, hasil akhirnya Allah yang menentukan. Terbiasa mengandalkan logika, Djoko pernah alpa menyadari hal ini. Pada tahun 2011, rencana bisnis yang sudah ia rancang dengan matang nyatanya meleset dari perkiraan. Semua jurus sudah ia keluarkan, tapi tak juga bias mengatasi masalah. Hal yang terlihat mudah, malah menjadi sulit.

Jika biasanya ia hanya harus mengeluarkan plan B, ketika rencana pertama tak berhasil, kali itu semua rencana yang ia buat menghadapi jalan buntu. Akibatnya, ia stres bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Dokter memberinya obat penenang, antimual, serta memberinya obat tidur. Sepulangnya dari rumah sakit, Djoko mulai menyadari semua yang menimpanya itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saat itulah ia memutuskan untuk umrah. Ia ingin bisa lebih mendekatkan diri padaNya. Meski saat itu ia tengah kesulitan keuangan, anehnya tatkala berniat umrah, segalanya dimudahkan oleh Allah. Bisnisnya kembali berjalan lancar bahkan pendapatannya lebih banyak sehingga ia bisa membayar biaya umrah. Meski sudah pernah berhaji, umrah kali itu ia rasakan luar biasa nikmat.

“Saya menangis di depan Ka’bah. Padahal ketika haji, saya heran kok bisa orang menangis seperti itu di depan Ka’bah. Saat itu hati saya benar-benar tergetar. Saya lepaskan semua unekunek dan menyadari bahwa semua ini datangnya dari Allah. Saya ikhlas dan menerimanya. Setelah itu hingga kini kalau ada permasalahan dan ikhlas, semua akan jadi ringan,” tuturnya.

Membina Karyawan

Menduduki beberapa posisi strategis di perusahaan penerbangan membuat Djoko memiliki banyak anak buah. Namun diakuinya, ada perbedaan mendasar tatkala ia harus membina karyawan tokonya. Ia ingin menciptakan lingkungan kerja yang Islami. Maka, nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja sama tim, kebersihan dan kerapian, serta konsistensi pada visi bisnis selalu ia tanamkan pada karyawan. Djoko juga selalu mengingatkan karyawannya agar mereka senantiasa menabung kebaikan, serta tidak sekali pun mengambil sesuatu yang bukan hak mereka.
 

“Kalau standar yang umum kan karyawan sekadar menunaikan kewajiban, selesai. Kalau saya selalu menyarankan, berikan ekstra. Nanti Allah yang berhitung. Insya’ Allah, kelebihan itu akan dikembalikan oleh Allah. Gaji yang diterima pun akan menjadi berkah.” Diakui Djoko, hal itu pula yang ia lakukan ketika masih bekerja di PT Dirgantara Indonesia. Ketika perusahaan vakum karena kekurangan proyek, di saat karyawan\lainnya banyak yang bolos atau bermalas-malasan, ia malah tetap memperkaya diri dengan ilmu. Karena, ia ingin memberikan sesuatu yang lebih pada perusahaan. Hasilnya, setiap kali ada tugas di luar negeri, Djoko selalu terpilih untuk dikirim karena dinilai lebih siap.

Menurut Djoko, kini ia memang perlahan mulai menyerahkan operasional bisnis pada karyawannya. Dua sampai tiga tahun ke depan, istrinya juga akan meninggalkan keterlibatannya di Amanah Muslim. Karena itulah, Djoko tengah mempersiapkan sebuah sistem untuk karyawannya agar siap ditinggalkan sepenuhnya. “Saya punya obsesi untuk terjun ke bidang yang lain, yakni agrobisnis, sekalian pulang kampung ke Blitar,” ujar pria yang rutin menyelenggarakan pengajian untuk karyawannya setiap Jumat pagi.

Menurut Djoko, selama 10 tahun membangun bisnis, ia bersyukur pergerakannya relatif terus naik. Meski begitu, kata Djoko, dalam hidup ini tak cuma materi yang harus meningkat, tapi juga iman, takwa dan ilmu yang dimiliki. Karena, tak ada yang lebih ia inginkan selain menjadi insan yang selamat dunia dan akhirat.


Sumber: Majalah AuliaEdisi Oktober 2013

Thursday, January 16, 2014

Kemenangan Bizantium




Penggalan berita lain yang disampaikan Al Qur'an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan.

"Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Al Qur'an, 30:1-4)

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa+tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur'an takkan pernah menjadi kenyataan.

Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Akhirnya, "kemenangan bangsa Romawi" yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur'an, secara ajaib menjadi kenyataan.

Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.

Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan "Adnal Ardli" dalam bahasa Arab, diartikan sebagai "tempat yang dekat" dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata "Adna" dalam bahasa Arab diambil dari kata "Dani", yang berarti "rendah" dan "Ardl" yang berarti "bumi". Karena itu, ungkapan "Adnal Ardli" berarti "tempat paling rendah di bumi".

Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. "Laut Mati", terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.

Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur'an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur'an adalah wahyu Ilahi.

Tuesday, January 14, 2014

Tentang Obsesi



Obsesi adalah sesuatu yang penting untuk mendorong kita menjadi sukses. Kalau Anda melihat sejarahnya orang-orang sukses, mereka selalu memiliki obsesi tinggi terhadap segala hal dalam kehidupan ini. Biasanya a high achiever atau orang yang berhasil mencapai apa yang diinginkannya mempunyai karakterisitik yang unik.

Pertama, pada saat melihat kesempatan yang menurut dia benar, selalu ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kedua, dia selalu melihat persoalan-persoalan yang ada hubungannya dengan goal atau tujuan yang ingin dia capai. Dia juga selalu menghindari untuk melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan untuk mendekatkan dia pada goal yang ingin dicapai. Ketiga, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk mencapai hal-hal yang benar-benar ingin dicapainya.

Kita percaya bahwa orang yang sukses itu selalu mempunyai obsesi dalam kehidupannya. Obsesi tersebut biasanya sangat tinggi. Obsesi tersebutlah yang membuat drive atau dorongan mereka mau untuk mencapai apa yang diinginkan. Jadi, yang penting adalah bukan bagaimana mencapai sesuatu itu, tetapi lebih dari itu adalah apa yang ingin kita capai. Mereka selalu bekerja demikian kerasnya untuk mencapai obsesi yang diinginkannya itu.

Hal yang paling penting dalam “Rahasia Sukses Berbisnis” adalah mencoba untuk melihat dalam setiap hari kehidupan kita. Hal-hal apa yang seharusnya kita lakukan supaya kita lebih mendekatkan diri pada sukses tujuan kita.

Kemudian, jika kita telah mengetahui apa yang menjadi obsesi kita, selanjutnya adalah menghindari apa yang melemahkan kita atau yang tidak ada gunanya terhadap tujuan kita. Terakhir atau ketiga adalah memanfaatkan seluruh waktu kita untuk bekerja sekeras-kerasnya untuk mencapai hal-hal yang kita inginkan itu. Jadi, kita harus mencoba untuk setiap hari selalu maju lebih dekat terhadap goal atau tujuan atau obsesi yang kita inginkan dalam hidup ini. Setiap hari kita harus bergerak maju dan bukannya mundur dalam action-action yang kita lakukan terhadap goal yang akan kita capai itu.

Semoga bermanfaat untuk mendorong Anda menjadi orang-orang yang sukses


Monday, January 13, 2014

Mengukur Sebuah Kejujuran



Kejujuran adalah tanda bukti keimanan. Orang mukmin pasti jujur. Kalau tidak jujur, keimanannya sedang terserang penyakit kemunafikan. Pernah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: "Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?" Rasul SAW menjawab: "Mungkin saja." Sahabat bertanya lagi: "Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?" Rasul menjawab: "Mungkin saja." Sahabat bertanya lagi, "Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?" Rasulullah menjawab: "Tidak." (HR Imam Malik dalam kitab al Muwaththo') 

Inti hadis ini menegaskan, seorang mukmin tidak mungkin melakukan kebohongan. Kejujuran adalah pangkal semua perbuatan baik manusia. Tidak ada perbuatan dan ucapan baik kecuali kejujuranlah yang mendasarinya. Oleh sebab itu, Allah menyuruh orang-orang mukmin agar selalu berkata benar dan jujur. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang jujur/benar." (al-Ahzab [33]: 70). 

Rasulullah bersabda: "Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga." (HR Ahmad, Muslim, at-Turmuzi, Ibnu Hibban) Kejujuranlah yang menjadikan Ka'b bin Malik mendapat ampunan langsung dari langit sebagaimana Allah jelaskan dalam surah at-Taubah. 

Kejujuranlah yang menyelamatkan bahtera kebahagiaan keluarga dan kejujuran pulalah yang menyelamatkan seorang Muslim dari siksa api neraka di kemudian hari. Kejujuran adalah tiang agama, sendi akhlak, dan pokok kemanusiaan manusia. Tanpa kejujuran, agama tidak lengkap, akhlak tidak sempurna, dan seorang manusia tidak sempurna menjadi manusia. 

Di sinilah urgensinya kejujuran bagi kehidupan. Rasulullah pernah bersabda, "Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan." (HR Abu Dunya)

Ada tiga tingkatan kejujuran: Pertama, kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas. (lihat ash-Shaff [61]: 2 dan al-Ahzab [33]: 70). Kedua, kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Ketiga, kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tingkat tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah SWT. 

Seorang mukmin tidak cukup hanya jujur dalam ucapan dan perbuatan, tapi harus jujur dalam niat sehingga semua ucapannya, perbuatannya, kebijakannya, dan keputusannya harus didasarkan atas tujuan mencari mardlotillah. Kejujuran inilah yang mendorong Umar bin Khattab memiliki tanggung jawab luar biasa dalam memerintah khilafah Islamiyah sehingga pernah berkata: "Seandainya ada seekor keledai terperosok di Baghdad (padahal beliau berada di Madinah), pasti Umar akan ditanya kelak: "Mengapa tidak kau ratakan jalan untuknya?" Bangsa yang tak henti-hentinya diterpa musibah dan krisis sangat membutuhkan manusia-manusia jujur, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun niat. Wallahu a'lam bis shawab. 

 Sumber: ROL